Guru Sukwan Harus Bergerak!!? April 15, 2009
Posted by Nugraha Perdi in Sosial.add a comment
“Perjuangan kelas akan tetap ada bahkan meski kaum borjuis dan para intelektualnya, yang merupakan ‘tentara-tentara bayaran’ kaum borjuis, menyangkal keberadaannya.”
(Antonio Gramsci)
Kehadiran Guru Sukarelawan (Sukwan) atas kebijakan pemerintah indonesia semakin menambah deretan cara penindasan baru bagi rakyatnya. Pasalnya orang yang rata-rata memiliki latar pendidikan Sekolah menengah sampai perguruan tinggi ini dipekerjakan sebagai tukang. Mereka menerima bayaran hanya satu minggu sedangkan kerja mereka harus satu bulan. Langkah program pendidikan ini sudah menyalahi kodrat kemanusiaan, yang seharusnya ketika mereka kerja maka ketika itu pula mereka mendapat bayaran sebelum mulut mereka basah lagi setelah kekeringan lantaran bicara dikelas dalam hitungan jam.
Ambil contoh konkritnya seperti ini; 1 jam mereka dibayar 10.000. missal saja dalam satu minggu mereka mempunyai 10 jam. Secara otomatis dalam satu bulan mereka punya 10 jam x 4 minggu = 40 jam. Tetapi, bayaran yang diterima mereka pada tanggal yang tidak menentu adalah Rp. 100.000,-, karena hitungan atau rumus yang digunakannya adalah rumus ”nilai sukwan”, nilai sukwan berarti nilai suka-suka aja, mau berape juga suka-suka gue, lantaran gue juga yang ngasih. Secara hitungan pake akal waras, saya yakin hasil keringat guru sukwan selama satu bulan bukan di angka Rp. 100.000,-
Praktik “nilai lebih” yang merupakan produk kapitalis ini akan menjadi pemicu munculnya gerakan baru dari “Tukang Pengajar”. Jangan salah, mereka mempunyai basic pendidikan yang cukup tinggi, maka ketika mereka menemukan posisi mereka saat ini, sudah dipastikan gelombang reaksi dari buruh pengajar akan bergejolak. Mereka mempunyai modal untuk melakukan gerakan itu, karena mereka orang-orang beruntung yang bisa sekolah kejenjang lebih tinggi yang tentunya tidak menelan biaya yang sedikit. Selain dari pada itu mereka mempunyai jaringan-jaringan yang dapat dengan mudah mereka akses sehingga berpotensi untuk menjadi sebuah gerakan kolektif.
Guru sukwan serta buruh-buruh se-nusantara bersatulah…!!!!,
Sangat sejalan dengan nama yang disandangkan pada Tukang Mengajar ini yaitu sebagai Guru Sukwan. Nama sukwan menjadi alasan jitu untuk menutupi kebobrokan system pendidikan kita sekaligus untuk melegalkan cara penindasan. “la wong namanya juga sukarelawan kok…mbo ya jangan diributin to, mo berapa aja bayarannya, mo seberapa lama kerjanya… Dah dapet juga masih untung..!!!, pemerintah justru membantu mereka yang kesusahan cari kerja, mau apa lgi sichh…”. kalimat itu pasti muncul dan benak kita men-sah-kan itu, karena sudah terlanjur nama yang menarik itu yang dilekatkan oleh pemerintah sudah mengotori pikiran kita, sehingga pikiran kita menjadi rancu dalam memandang masalah tersebut.
Kualitas pendidikan bukanlah ditentukan oleh sebuah nama yang direkayasa sedemikian rupa. Tetapi bagaimana pemerintah menyediakan anggaran untuk menopang kualitas pendidikan dan para pendidik untuk mengembangkan potensinya. Harapan agar wajah buruk pendidikan kita semakin jelas terlihat sehingga setiap individu bisa mengontrol setiap kebijakan secara nyata dan tidak asal kontrol pake cara boong-boongan….. [Perdi Abu Ghaida’]
Israel jahat,…!!! Januari 13, 2009
Posted by Nugraha Perdi in Sosial.2 comments
Harus berkomentar apalagi tentang tindakan israel ke palestina (yang sampai saat ini masih tempur). Sebagian besar penduduk planet bumi hari ini sepakat mengutuk israel dan hanya segelintir saja yang membela dan men-sahkan tindakan israel.
Barangkali, orang israel amat gemar bunuhi orang. entah karena emang wataknya yang bandel-bandel, atau rebutan warisan/ tanah, atau beda sesembahannya/ tuhan, atau emang cuma pengen buang-buang duit sehingga demen perang, atau juga emang cuma iseng…ah kalo itu sih ga mungkin bangett!!, mungkin kajian ini akan sedikit panjang.
Yang jelas, hati nurani siapapun tidak bisa membenarkan secuilpun alasan, kalo ada seseorang atau kelompok yang bunuhi orang (perempuan,anak-anak, remaja, tua dan makhluk hidup lainya). Mari lihat buah tangan agresi israel ke palestina; bunuhi orang, rusak fasilitas dan tanah, mencemari udara, mencemari air, sehingga menyebarnya wabah penyakit. Ga usah-lah kita ngobrolin keuntungannya, cukup melihat fenomena itu saja sudah tidak cukup beruntung sama sekali, kecuali, barangkali bagi bangsa israel dan kita saja yang merasa beruntung. Mungkin bagi bagsa Israel mereka merasa puas dan bahagia dengan keadaan itu, dan juga bagi kita juga merasa “beruntung” karena kejadian itu tidak menimpa kita…!!
Maka, berkacalah pada bangsa israel, mari kita pompa jantung kita dengan keras dan alirkan darahmu sampai deras, buang-lah kata-kata kotor untuk israel karena mereka juga senang melakukan kekotoran “ANJING ISRAEL!!”, “ISRAEL BAJINGAN!!”, ‘ISRAEL JAHAT,…!!!”. Lalu, saksikanlah kehancuran bangsa israel, itu HARUS terjadi karena mereka sangat menghendaki kehancuran, kerusakan dan pembunuhan. Amin, semoga keinginan bangsa Israel di kabulkan oleh Sang Maha Pengasih Penyayang demi kebahagiaan bangsa mereka. Segala Puji BagiMu Wahai Tuhanku Yang Maha Pemurah…. [Perdi].
Karl Marx yang “cinta kaum buruh” Desember 3, 2008
Posted by Nugraha Perdi in Sosial.add a comment
Karl Heinrich Marx (nama lengkapnya yang lahir pada 5 mei 1818). Saya mandang perlu untuk menulis nama populer itu di dalam judul yang berkaitan dengan buruh, karena ide-idenya tentang pembelaan kaum buruh sangat luarbiasa dan mendunia. KOnon dari idenya-lah faham komunis lahir sebagai obat penawar atas penyakit/ virus Kapitalisme yang menjangkiti masyarakat kecil secara akut.
awalnya konflik terjadi pada diri Marx yang pada waktu itu relatif masih kecil, yang harus secara terpaksa meninggalkan kepercayaan/ keyakinannya dari agama Yahudi jadi agama Kristen Protestan, karena seluruh keluarganya telah dibaptiskan jadi kristen protestan.
Konflik keyakinan yang diderita marx sangat mempengaruhi kehidupannya, dia harus rela meninggalkan Tuhan-nya yang Tunggal (Jehovah) kemudian menerima tuhan-nya yang baruyaitu Tuhan Bapa, Tuhan Yesus dan Tuhan Roh Kudus (yang selanjutnya disebut Tritunggal). Seiring dengan bertambahnya usia, otaknya yang luarbiasa dan sudah terkontaminasi oleh faham-faham lain itu semakin menolak realitas yang ada di lingkungan gereja, dari mulai konsep Tritunggal yang menurutnya samasekali tidak masuk akal, sampai Paus dan Kitab-kitab Injil juga kena kritikannya yang menrutnya itu adalah bukan wahyu Tuhan tapi Kitab “gubahan” dari sang paus sehingga hanya menguntungkan kaum elit (kaum ber-modal) saja, sehingga gereja tersebut dianggapnya sebagai alat/ mesin efektif untuk memeras dan membunuh secara halus kaum buruh serta membiusnya agar tidak berontak. sebagaimana dalam sebagian ajarannya/ dogma yang penuh dengan cinta kasih gereja yang juga merupakan sasaran kritik marx terhadap injil, bahwa:
“Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadu engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan satu mil, berjalanlah bersama ia sejauh dua mil” (matius, 5:39-41)
Selanjutnya, kritikan marx berlanjut pada kaum pemodal (kapitalis), karena analisisnya tentang nilai lebih (mehwert surplus value) yaitu sistem yang dimainkan oleh kaum kapitalis dengan memeras tenaga buruh lebih banyak dan lama ketimbang upah yang diberikan kepada kaum buruh tersebut yang lebih sedikit, sehingga tidak simbang antara tenaga yang banyak dikeluarkan dan waktu kerja yang lama dengan upah. Oleh karena itulah marx sangat kecewa terhadap kondisi seperti itu, sehingga bersama temanya Engels, dia menyusun sebuah manifesto partai komunis (manifest der kommunistischen partei) yang terkenal sangat ganas :
“Kaum komunis tidak perlu menyembunyikan pendapat dan maksudnya, dengan terusterang mereka mengumumkan bahwa tujuan mereka dapat dicapai dengan merobohkan seluruh susunan masyarakat ini dengan kekerasan. Hendaklah golongan yang berkuasa gemetar dihadapan revolusi komunis. Kaum buruh yang miskin tidak akan kehilangan apa-apa kecuali belenggunya. -Proletarier aller vereinigt euch- Kaum buruh sedunia bersatulah !”.
Dari sana dia meng-claim bahwa hanya dengan kekerasan dan melenyapkan agama-lah kaum tertindas bisa memperoleh kemerdekaan dari belenggu-belenggu kapitalis yang amat kejam. Dan demi-cita-citanya demi kebebasan kaum buruh itu ia rela untuk hidup menderita, sampai akhir hayatnya ia tidak pernah kebagian cinta dan kasih yang pada waktu itu sangat marak diajarkan oleh gereja.
Filsafat materialisme dialektika Historis yang dianutnya untuk melawan kesesatan agama pada waktu itu. dengan ungkapanya yang sangat terkenal yaitu :
“Religion is the sigh of the oppressed creature, the heart of a heartless eorld, just as it is the spirit of a spiritless situatio. It is opium of the people”.
“”Agama adalah keluh kesah makhluk yang tertindas, hati nurani dari dunia yang tidak berhati, tepat sebagaimana ia adalah jiwa dari keadaan yang tidak berjiwa. Dia adalah Candu Rakyat”.
Dari ide itulah pangkal terbentuknya faham komunis (marxis-leninis) yang menjelma menjadi sistem, struktur, dogma bahkan agama yang mendunia, yang sebagai aktornya adalah seorang “paulus-nya Karl Marx” yaitu Lenin pemuda Jerman yang gigih.
Akhirnya perjuangan dan ajarannya untuk membela kaum buruh yang tertindas “kandas” seiring dengan berjalannya waktu, dan agen-agen kapitalis-pun masih tetap bermunculan…….Lalu…;
Sia-siakah perjuangan Marx demi buruh ?
Terkutuk-kah ia (marx) yang benci bahkan memerangi agama yang pada waktu itu agama hanya dijadikan sebagai alat penindasan pada kaum buruh ?
Masihkah tersisa nilai-nilai kepercayaan spiritual dalam dirinya?, ataukah sudah punah bersama dengan pemikirannya sendiri (filsafat materialisme dialektika historis) sehingga sampai saat ini ia dikutuk banyak orang sebagai orang ateis ?
Akankah ia (marx) mendapatkan Cinta Kasih yang sejati ?
Terlepas dari itu semua, sungguh ia mengingatkan manusia bumi akan pembelaan terhadap kaum tertindas (mustadh afin) dari cengkraman kaum penindas (mustakbirin), yang menerobos jauh dari wilayah materialisme yaitu pembelaan moral serta nilai-nilai kemanusiaan universal dan meng-agungkan persaudaraan (brotherhood). [Perdi].
Sumber: Marx dan Agama -O. Hasem-
Memilih Istri November 26, 2008
Posted by Nugraha Perdi in Sosial.add a comment
Mempunyai istri/ pendamping hidup merupakan dambaan setiap kaum Adam. terlepas dari problem apapun, barangkali, laki-laki yang ga mau punya istri berbarti ga normal dan secara serius dia telah melanggar nature-nya sendiri sebagai makhluk Tuhan yang mempunyai hasrat “bergaul” denagn lain jenis, sehingga karenanya ia “berdosa”.
Selanjutnya barangkali kita (kaum adam) punya pilihan masing-masing sesuai type-nya terkait “istri mana yang paling beruntung mendapatkan laki-laki seperti diri ini…?!!”. Kemudian Laki-laki mana yang ga mau punya istri yang sempurna (kaya, baik, cantik, soleh dsb.), pokoknya sempurna dech….!!
Tapi uniknya, sekali lagi masing-masing cowok punya selera tersendiri dalam memilih istri sehingga soal kaya, cantik, baik, dan soleh itu jadi relatif dan itu sulit dihindari. Misalnya aja soal cantik. Ok, dikampus negeri cewek itu cantik, tapi belum tentu jika dibandingkan dengan cewek dikampus swasta. Selain itu persepsi cantik bagi kaum wanita mungkin saja berbeda dengan persepsi cantik menurut kaum adam yang biasanya barangkali Cantik itu dipersepsi berdasarkan hasrat seksualitas kaum adam itu sendiri..UggHh. Tapi pandangan kaum adam itu-pun masih relatif juga, mungkin aja bagi laki-laki yang ahli batin, Cantik itu dipandang sebagai manifestasi kelembutan dan keindahan Tuhan. Nah, dari contoh itu tidak ada bedanya dengan soal, kaya, baik, soleh dll, selama itu masih dalam wilayah persepsi dan diperbandingkan, maka itu akan jadi relatif.
Akhirnya mari kita luruskan niat, perhebat diri dengan ilmu dan selamat memilih pasangan [Perdi].
Cogito Ergo Sum-nya Al-Marhum Cak Nur November 19, 2008
Posted by Nugraha Perdi in Sosial.add a comment
Sekali lagi saya tawarkan kembali sepercik gagasan dari Cak Nur (panggilan akrab dari Nurcholish Madjid). Barangkali judul dengan sedikit make bahasa asing itu tidak terlalu asing bagi kita, apalagi dikalangan para pemikir. Ungkapan populer itu berasal dari seorang filosof terkenal dari perancis yaitu Rene Descartes, yang artinya kurang lebih seperti ini : “Aku Berpikir maka Aku Ada” (je pense donc je suis -dalam bahasa perancis-). Menurutnya berpikir adalah bentuk wujud manusia. Barangkali, ini merupakan penegasan bahwa manusia merupakan makhluk yang berpikir, sehingga orang yang ga mau mikir berarti dia tidak pantas disebut manusia. Karena akal pikiran merupakan ciri khas dari makhluk jenis manusia ini.
Kemudian berkaitan dengan itu, Cak Nur dengan claim gagasan keislamanya menegaskan bahwa seharusnya falsafah itu berbunyi seperti ini : “Aku Berbuat maka Aku Ada”.
Perbuatan atau kerja, amal dan bentuk praktis (praxis) lainya adalah bentuk keberadaan (Mode of existence) dari manusia. Artinya manusia itu mengada ketika ia kerja, dan kerja itulah yang menegaskan dan mengisi eksistensi manusia itu sendiri. Jadi konsekuensinya barangkali, orang yang tidak mau kerja atau beramal atau berbuat sesuatu secara praktis (praxis), maka maaf-maaf aja orang tersebut kurang layak disebut sebagai manusia.
Selanjutnya Cak Nur menegaskan kembali lewat salah satu ayat dalam teks suci yang ia sarikan kurang lebih seperti ini : “bahwa manusia tidak akan mendapatkan sesuatu apapun kecuali yang ia usahakan sendiri”. Bertolak dari sini ia menganjurkan untuk senantiasa menginsafi secara mendalam bahwa nilai yang dimiliki manusia itu adalah bentuk/ hasil kerjanya sendiri yang kelak akan dipertanggungjawabkanya sendiri pula. Jadi, seharusnya kita tidak menyepelekan pekerjaan yang dilakukan. Dan bahwa kerja itu adalah Mode of Existence diri manusia itu sendiri, sehingga, kita tidak boleh memandang kerja sebagai “untuk orang lain” (secara eksistensial). Berbuat baik atau buruk itu akan membentuk nilai pribadi masing-masing dan bukan untuk orang lain.
Yang kemudian ia pertegas lagi dengan mengambil salah satu ayat dari teks suci al-qur’an yang ia tafsirkan kurang lebih seperti ini : “barang siapa berbuat baik, tidak lain ia berbuat baik untuk dirinya sendiri, dan barang siapa berbuat jahat, tidak lain ia berbuat jahat untuk dirinya sendiri, bahkan barang siapa yang bersyukur atau bertema kasih (kepada Allah) maka tidak lain ia bersyukur atau berterimakasih pada dirinya sendiri.
Hari ini saya mau menyampaikan Selamat bekerja aja!!! [Perdi].
argumentum ad verecundiam November 6, 2008
Posted by Nugraha Perdi in Sosial.add a comment
judul aneh tersebut (Fallacy logic; dalam ilmu logika) mempunyai peran yang cukup besar di kalangan ningrat dalam struktur masyarakat tertentu. hal ini merupakan salah satu kekeliruan berpikir yang cenderung menggunakan suatu otoritas untuk membenarkan atau membela pendiriannya sendiri, sehingga lawan/ musuh ga bisa berkutik karenanya. hal ini cukup berbahaya jika dibiarkan, bisa-bisa semua manusia stress akibatnya. selain menyerang mental pemikiran ini bisa mencuat kepada pergesekan fisik, karena ini akan menyangkut pada hal yang sangat prinsip dalam sebuah keyakinan kehidupan didunia ini.
Tarik subsidi BBM atau Naik harga BBM Juni 3, 2008
Posted by Nugraha Perdi in Sosial.add a comment
“Hidup adalah sebuah Pilihan”, barang kali itulah kalimat dari orang bijak yang sedikit cocok untuk hari ini, ga tahu kalau hari esok. yang jelas hari ini seluruh rakyat indonesia diperhadapkan pada permasalahan yang terkait dengan Bahan Bakar Minyak disingkat:BBM. siapa yang ga tahu tentang isu BBM ini?. BBM bak berlian yang selalu diperebutkan orang sampai terkubur diliang lahat, maka orang yang tidak mengenal BBM bisa dipastikan orang tersebut masih primitif.
Dengan dalih “sayang sama rakyat” pemerintah indonesia dengan senang hati mengambil keputusan seperti ini, memang seperti itulah seharusnya, pemerintah harus melindungi dan mensejahterakan rakyatnya baik dari sektor kemiskinan, kesehatan, keamanan, pendidikan dll. Agar ter-realisasinya program pemerintah dalam melindungi masyarakat tersebut, maka Pemerintah dengan sangat senang hati memilih untuk “Menarik Subsidi BBM”.
Seiring dengan kebijakan pemerintah tersebut Rakyat Indonesia menyambut dengan sangat meriah dan penuh suka cita. Bisa kita lihat dilapangan, semua elemen masyarakat turun kejalan untuk menyambut dan memeriahkan kebijakan pemerintah tersebut dengan berbagai tradisi daerahnya masing-masing. Hari ini Rakyat Indonesia telah memilih untuk “Menaikan Harga BBM”, agak sedikit berbeda dengan Pemerintah Indonesia yang memilih untuk “Menarik Subsidi BBM”. Benar sekali kata orang, bahwa orang Indonesia itu sangat ramah dan toleran. Dengan naiknya harga BBM ini, persatuan rakyat indonesia semakin kuat, itu terbukti dengan ajang silaturahmi terjadi dimana-mana mulai dari SPBU, di Jalan raya, di kampus, disekolah apalagi ditempat yang strategis untuk silaturahmi yaitu di gedung dewan dan gedung pemerintah. Sungguh sangat luar biasa..!!.
Tapi kenapa poster ajang silaturahmi itu bertuliskan, “menaikan harga BBM = menindas rakyat” ???!!!. Ya, barangkali itu hanya sebagai ekspresi kecintaan pada dirinya sendiri (prudencial), bisa dilihat dalam kenyataanya bahwa masyarakat indonesia tidak gentar sedikitpun meskipun BBM naik 500%, banyak Rakyat indonesia yang beraktifitas tanpa menggunakan BBM. memang selain ramah dan toleran rakyat indonesia juga sangat cerdik, bayangkan aja, dahulu rakyat indonesia bisa memukul mundur pasukan belanda dan jepang hanya dengan senjata bambu runcing dan senjata tradisional lainya melawan Tank yang notabene menggunakan BBM.
Trus, kenapa ajang silaturahmi itu ada gontok-gontokan antar mahasiswa dan ada juga antara mahasiswa dengan polisi????!!…memang benar hal itu terjadi, itu merupakan salahsatu kreatifitas anak bangsa yang mencoba untuk mengukir prestasi atas nama bangsa indonesia dan hal itu harus ditingkatkan bukanya dibantai abis. Ini merupakan proses menuju indonesia yang lebih baik. Untuk melakukan sebuah perubahan kearah lebih baik harus melewati masa-masa pahit terlebih dahulu, sebagaimana yang telah dilakukan oleh para pahlawan indonesia untuk membebaskan rakyat indonesia dari belenggu tiran. Jadi, gontok-gontokan itu merupakan perbuatan yang harus terjadi demi tujuan yang baik dan mulia.
Barangkali yang harus diperbaiki disini adalah cara berpikir kita yang cenderung menggantungkan diri pada BBM, padahal ada sesuatu hal yang lebih pantas untuk digantungi. Ga sedikit dari orang yang cara berpikirnya salah melahirkan tindakan yang kurang baik.[Perdi]
