Benar November 22, 2009
Posted by Nugraha Perdi in agama.add a comment
BENAR bukanlah kata yang harus diklaim atau dicari melainkan harus di singkapkan kotoran-kotoran disekeliling kebenaran itu, sehingga kebenaran terlihat sebagaimana kebenaran itu sendiri dan bukan hanya persepsi atau sudut pandang tertentu. manusia mana yang tak butuh kebenaran, tiada lain hal itu sebagai argumentasi fitri bahwa manusia bahkan setiap yang berjiwa selalu berpihak pada kebenaran. Benar adalah bersih dari segala sesuatu apapun dan bersifat universal, maka tak berhak bagi siapapun untuk mengklaimnya. Karena yang benar hanya akan tetap menjadi benar maka tak mungkin berubah menjadi selainya, dia adalaha abadi. [perdi]
Prita…MERDEKA!!! Juni 11, 2009
Posted by Nugraha Perdi in agama.add a comment
Bagi saya prita adalah suara hati setiap manusia yang bisa bergerak. Sisi kemanusiaan yang tercetus lewat perbuatan prita merupakan tindakan yang wajar dan sangat alamiah. Karena pada dasarnya setiap manusia mendambakan kesempurnaan. Menghalangi atau membantah sifat alamiah ini berarti sudah melanggar hukum nature kemanusiaan sekaligus menghilangkan sisi kemanusiaan itu sendiri (“dosa yang tak terampuni”)
hal ini tidaklah sebanding dengan apa yang dia dapatkan. Sekarang sudah jelas siapa yang harus mendapat hukuman penuh atas masalah ini. Ini merupakan masalah yang sangat prinsip serta perlu mendapatkan penanganan yang sangat serius daripada isu untuk berebut dukungan kekuasaan.
MERDEKA!!!
Kontemplasi 6 Mei 27, 2009
Posted by Nugraha Perdi in agama.add a comment
Riak-riak dari kejauhan sudah nampak tanda-tanda kehidupan manusia. Akhirnya para pemikir itu telah berhasil melewati hutan belantara selama kurang lebih satu hari satu malam. Hari menjelang senja dan cuaca yang sedikit mendung menggugah firasat mereka bahwa malam ini akan turun hujan dan mereka harus mendapatkan tempat berteduh dan beristirahat sejenak. Mulailah mereka mencari tempat tinggal hingga menemukan sebuah rumah yang besar dan megah, merekapun masuk menemui penghuni rumah itu dengan maksud untuk meminta ijin tinggal. Ternyata jauh dari harapan, mereka malah mendapat usiran karena pemilik rumah megah itu tidak mau ditinggali oleh orang-orang kumuh seperti mereka berdua.
Tidak putus asa mencari tempat penginapan gratis, akhirnya mereka menemukan sebuah rumah yang lebih kecil dan sederhana daripada yang tadi, tetapi merekapun mendapat perlakuan yang sama dari pemilik rumahnya. Dengan nada kecewa pemikir junior berkata; “Barangkali hanya Tuhan kita sajalah yang paling baik, yang memberikan segala sesuatu secara gratis tanpa pandang bulu, betul tidak senior?”. “Ya, kamu betul”, jawab senior singkat.
Hujan-pun mulai turun membasahi tubuh mereka dan hari semakin gelap menyelimuti alam raya sedangkan mereka belum mendapatkan tempat berteduh. Sambil berjalan setengah lari akhirnya mereka menemukan sebuah bangunan kumuh yang beratapkan jerami tanpa dinding. “bolehkah kami berteduh disini?”, Tanya senior sambil menyelipkan badanya dibawah atap jerami. “Oh, tentu saja boleh,mari silahkan”. Ajak salah satu penghuni bangunan tersebut.
Suasanapun mulai hening. Sambil menunggu hujan reda, junior mengajak ngobrol pada seniornya; ”aku tahu senior…kenapa dirumah bagus tadi kita di usir tetapi disini tidak kena usir”, kata junior dengan nada sok tahunya. ”ya, kenapa ya kok bisa gitu…?”, tanya senior penasaran. ”ya..karena rumah bagus tadi bukan tempat penginapan umum gratis, tetapi kalau disini kayaknya tempat pengungsian gratis. Lihat aja mereka penghuni tempat ini, jumlah mereka lebih dari 10 orang semuanya bawa tas besar-besar lagi pasti isinya pakaian+harta..kebanjiran kali yeach…”, jawab junior dengan sedikit berbisik pada seniornya. ”SSsstt…sudahlah wahai junior, janganlah kau membicarakan orang lain, itu tidak baik, OK!!”. kata senior dengan nada protes.
Sejenak suasana hening kembali. Udara malam mulai terasa dingin menembus kulit mereka. Orang-orang penghuni gubuk itupun sudah tertidur pulas. Melihat perbekalan mereka, sepertinya mereka adalah orang-orang pengelana yang telah melakukan perjalanan jauh, entah akan kemana akan terus berjalan.
Ditengah suasana yang hening itu, tiba-tiba junior bertanya pada seniornya; ”O ya senior, setelah dipikir-pikir kenapa juga tuhan menciptakan manusia secara beragam, ada yang miskin ada yang kaya, ada yang percaya pada-Nya ada juga yang tidak seperti kepala suku brenye dari pulau capung itu, kenapa ya senior, padahal Dia kan Maha Kuasa,kenapa Dia tidak menjadikan kita semua orang yang kaya dan taat kepada-Nya, pasti semuanya aman lancar dan terkendali, betul tidak senior?”. ”ooOh…jadi kamu udah mulai frustasi miskin terus…?!!. menurut saya, Tuhan kita tidak mungkin sedang main-main. Keragaman adalah kehendak dari-Nya yang Maha Bijak. Banyak hikmah yang dikandung dari keberagaman, salahsatunya kita bisa saling memberi dan menyayangi, dan itu akan terasa lebih indah, betul tidak?…dan berarti, tindakan menyeragamkan dari keragaman anugerah Tuhan ini sama dengan melawan hukum Tuhan itu sendiri dan itu mustahil”, Argunmen senior.
Argumentasi dari seniorpun dijawab dengan ngorok yang menarik dari juniornya. Dengan nada kesal senior berkata; ”hei..junior, argumentasi saya belum selesai..!!”. meski mendapat teguran dari seniornya junior tetap saja betah dialam bawah sadarnya. [-perdi-]
Bersambung….
Caleg Ksatria Pecundang 2009 Mei 27, 2009
Posted by Nugraha Perdi in agama.1 comment so far
“Partai kita bukanlah sebuah partai yang demokratis, paling tidak dalam arti traditional yang biasanya dilekatkan pada kata tersebut” (Gramsci, Mei 1925)
“tentang ‘kita’ dan ‘rakyat’ seolah-olah keduanya adalah entitas yang terpisah; di mana kita (siapakah yang disebutnya ‘kita’?), sebagai partai aksi, dan rakyat sebagai sebuah kawanan kaum buta dan bodoh”. (Leonetti)
Pesta Demokrasi. Seperti itulah yang hari ini masih ramai ditelinga sebagai sebutan lain untuk pemilu legislative tahun 2009. dimana orang-orang berebut untuk mendapatkan kursi di DPR pusat sampai DPRD Kota/ Kabupaten dengan alat perangnya tiada lain adalah partai. Peralatan perangpun mulai dipersiapkan apalagi pesta ini akan menentukan pesta selanjutnya, yaitu Pilpres, antara lain atribut partai diperbanyak guna membius minat masyarakat bawah, membentuk kelompok kecil yang siap mati di medan pertempuran (tim sukses) dan tidak lupa lumbung-lumbung logistic mulai dipertontonkan sebagai bentuk unjuk kekuatan partai.
Genderang perang telah dibunyikan, saatnya kini kita mempersiapkan diri. Saya tidak tahu apakah kita harus senang atau sedih. Pasalnya banyak Caleg sekaligus anggota dari sebuah partai politik yang mengalami depresi sampai ada yang mati dalam pertempuran. Mereka gugur karena didera kekalahan yang telak. Perjuangan mereka sudah ancur-ancuran dengan mengorbankan segala apa yang mereka miliki, meskipun tidak sampai menjual kolor mereka. Bagaimana hati tidak kan hancur jika kondisinya seperti itu. Lebih baik mati sebagai ksatria di medan pertempuran dari pada kalah menyedihkan, Wwwueeesh…
Sudah dapat diperkirakan sebelumnya, bahwa Caleg yang akan mengalami kekalahan dalam peperangan berjumlah sangat banyak karena tidak sebanding dengan kursi yang telah disediakan di Badan Legislatif yang relative lebih sedikit dari pada yang mendaftar untuk duduk di kursi tersebut. Jadi, Caleg “Ksatria Pecundang” pun sudah dapat diperkirakan akan membludak.
Istilah demokrasi yang seharusnya menuntut sikap terbuka dan saling menghargai serta legowo kini ternodai oleh para ksatria pecundang ini. Tidak jarang para caleg yang beradu fisik untuk berebut kursi. Sejujurnya saya tidak rela jika diantara mereka ada yang duduk dikursi legislative, karena merekalah yang akan menampung segala aspirasi rakyat dan menjalankan serta mengotak-atik system, bisa dibayangkan akan seperti apa jadinya. Selain mereka berdosa pada dirinya sendiri, mereka juga telah berdosa pada rakyat karena telah berkhianat. Dia dipilih oleh rakyat, tetapi mereka malah sibuk bertempur demi sebuah kursi bukan untuk rakyat tapi untuk dirinya sendiri. Rakyat adalah kawanan kaum buta dan bodoh yang harus mereka mainkan untuk menyokong kedaulatan mereka..
Lalu, orang seperti apakah yang layak duduk dikursi legislative itu?,
Yang jelas dia harus sudah melampaui batas-batas hasrat material atau duniawinya, sehingga dimata dia kepentingan bersama adalah prioritas yang harus diperjuangkan dari pada kepentingan pribadinya. Sisakanlah orang-orang seperti itu dimuka bumi ini ya Tuhan-ku, demi hamba-hambaMu yang menginginkan perubahan. Amin…
Sekolah! Mei 11, 2009
Posted by Nugraha Perdi in agama.1 comment so far

Karena setiap orang wajib menggunakan potensi akal pikirannya untuk mengetahui sesuatu, maka setiap orang itu berhak mendapatkan ilmu pengetahuan baik secara formal ataupun nonformal. Kondisi ini menuntut negara untuk bertanggungjawab terhadap rakyatnya agar setiap orang tanpa pengecualian harus bisa merasakan nikmatnya menimba ilmu di sekolah. Sekolah merupakan sarana formal untuk menuntut ilmu sebagai upaya Negara untuk mempermudah rakyatnya dalam mengaktifkan potensialitas akalnya demi kehidupan yang lebih berharga. Jika, masih banyaknya problem dalam masalah pendidikan kita hari ini, maka hal itu mencerminkan kedustaan serta pengkhianatan Negara terhadap rakyatnya.
Kontemplasi 3 Maret 24, 2009
Posted by Nugraha Perdi in agama.1 comment so far
Akhirnya mereka menemukan tempat “pembersihan natural” yang tersedia seolah tanpa batas yaitu sungai yang lebar berbatu dengan air yang begiiitu jernih. Seketika junior berkomentar “UWwwaahh…lihat sungai itu senior, Tuhan kita memang baik senior, sungguh sangat beruntung kita, Dia Tahu apa yang kita mau, tapi…sebenarnya ini semua untuk siapa ya…?”. Dengan sedikit heran senior jawab “apa…nanya apa kamu ini junior?, maksud kamu apa yang untuk siapa itu?”. Kemudian junior jawab; “ya ini, masa ya itu…, maksud saya dari mulai udara segar yang membuat pernapasan saya jadi lega, kemudian air yang jernih yang membuat badan saya fresh, pohon besar berlumut hijau, bunga yang berwarna-warni nan indah yang membuat mata saya ceria, tidak lupa binatang-binatang air, darat dan udara yang beragam ini. Tentunya ini semua tidak akan habis jika untuk kita berdua sampai kita mati pun, betul tidak senior?”. Dan senior jawab; ”Ahh..kamu ada-ada aja, kamu tuh ke PD-an, kamu merasa kamu memiliki ini semua dengan alasan tuhan telah memberikan ini pada kita, padahal tidak seperti itu kan, coba lihat diseberang sungai sana, masih ada manusia-manusia yang menggunakan fasilitas Tuhan ini”. ”mana…mana senior, bila perlu kita usir saja mereka!!”, jawab junior dengan semangat juangnya. Dengan nada bijak senior jawab; ”tidak wahai junior…!! mereka juga makhluk Tuhan, mereka berhak memanfaatkan fasilitas dari Tuhan ini. Kasian kan, coba lihat perempuan berkulit putih dan berambut panjang itu!, kalo dia tidak membersihkan badan dan pakaian dalamnya, bisa-bisa dia jadi perawan seumur hidupnya”. Dengan nada semangat juangnya junior menjawab; ”Mana…mana…mana..wahai senior, bila perlu kita beritahu dia bahwa ini adalah fasilitas yang Tuhan berikan untuk kita semua, kita bebas memanfaatkannya demi kebaikan kita dan tanpa dipungut biaya!!!, betul tidak senior?”. senior memberi respon; ”kamu betul, tapi mendingan kamu urusi dulu badanmu dengan fasilitas Tuhan-mu itu, biar bisa mendekatinya dan tidak disangka penghuni hutan ini karena badanmu yang dekil and the kumel itu”.
Singkat cerita, atas dorongan kemanusiaan mereka berdua mencoba untuk mendekati para perempuan itu guna untuk menjalin komunikasi kembali dengan manusia lain. Dan atas petunjuk perempuan itu, maka sampailah mereka disebuah perkampungan yang cukup ramai karena banyaknya pedagang. Hal pertama yang mereka cari adalah orang yang sedang ngobrol, barangkali saja mereka sedang ngobrol tentang Tuhan, dan rencananya mereka akan melibatkan diri. Dari kejauhan mereka berdua melihat seorang pedagang yang berpakaian gaya arab borju. Terdengar suara pedagang itu menawarkan produk unggulannya; ”Wahai umat manusia…!!, marilah kemari, disini dijual kitab suci wahyu Tuhan untuk segenap manusia penghuni bumi ini, barang siapa yang ingin selamat dunia wal akhirat, maka disinilah jawabannya, kemarilah!!!”. tanpa basa-basi merekapun menghampiri pedagang itu dan segera memulai obrolannya dengan tawar menawar harga;
Junior : ”berape hargenye sob…?, awas ya, jangan sampe mengecewakan. Saya ingin yang kualitas dan khasiatnya bagus, kira-kira yang mana ya?”
Pedagang : “harganya Rp. 45.000,-, menurut ana, harga segitu tidak sebanding dengan khasiatnya. Ini adalah kitab suci yang turun langsung dari Tuhan. Orang jaman sekarang lebih rela uangnya dibelikan roti bulat didalamnya ada tumpukan rumput mentah, daging setengah matang, saos, tomat dan bawang serta menu modern lainya, dan harganya pun lebih mahal dari kitab suci ini. Mudah-mudahan anda tidak termasuk orang yang tersesat seperti itu. kitab ini adalah ilmu Tuhan. Dalam salah satu ayatnya Dia berkata tentang keharusannya setiap manusia untuk menimba ilmu, dan inilah ilmu itu. maka, belilah barang suci ini, niscaya engkau akan selamat.”
Senior : ”Sebentar pak, saya pusing dengan pembicaraan anda. Anda menjual kitab suci/ wahyu tuhan, dan dengan wahyu Tuhan anda promosikan kitab suci demi uang sebesar Rp.45.000,-…?!!??, apakah anda sudah minta ijin pada tuhan untuk menjual firmanNya?, kalo sudah, seharusnya uang hasil dagangan itu dibagi dua sama Tuhan karena kau menjual Perkataan/ firman Dia…??!”.
Pedagang : ”Euu….eu…..maksud saya???…><
Junior : ”sejauh mana anda mengenal Dia?”.
Pedagang : ”Saya mengenal Dia lewat FirmanNya di Kitab Suci ini”
Senior : ”lalu bagaimana kalo ada kitab suci lain yang mengatakan bahwa Dia itu tidak ada, atau Tuhan itu adalah manusia suci yang beranak banyak..?, bagaimana kau menjelaskan hal itu semua?!
Pedagang : ”Ya terserah, yang penting ana tetap berpegang pada kitab yang paling suci dan paling sempurna ini”.
Senior : ”sepertinya anda masih mengalami kekeliruan. Seharusnya anda mengenal Tuhan terlebih dahulu daripada firmanNya. Anda tahu Dia dari kitab ini, sedangkan kitab ini dari Dia. Sungguh sulit kuterima”.
Pedagang : ”Maaf, ana cuma mau melayani yang akan mau beli kitab suci ini saja. Keahlianku cuma bisnis kitab. Sebaiknya ente-ente cepatlah bertobat sebelum Tuhan murka pada ente, datangilah Ustadz Keramat yang berada diujung jalan ini, mintalah pencerahan darinya. Wasalam”.
Bersambung…
Proses berpikir secara filosofis tentang ketuhanan selalu menghadapi kekacauan jika didialogkan dengan tanpa prinsip berpikir yang benar. Menurut saya proses seperti ini sah untuk dilakukan dan akan mempunyai nilai lebih jika memang telah menguasai ilmu alat seperti filsafat dan logika. Kasarnya ketika berbincang dengan tukang jualan ayat suci-pun akan tetap PD karena telah memiliki dasar filosofis yang runut dari pada pedagang firman yang hanya tahu dari informasi sebuah teks atau terjemahan ayat-ayat. [perdi]
Kontemplasi 2 Maret 24, 2009
Posted by Nugraha Perdi in agama.add a comment
Setelah mendapatkan ceramah singkat dari anak muda penggembala domba itu, kedua pemikir suci itupun pergi dengan perasaan agak sedikit dongkol sekaligus penasaran tentang Tuhan yang dikatakan anak muda tersebut. Setelah sekian lama mereka berpisah saatnya bagi mereka mengeluarkan kembali unek-unek pengalamanya yang tadinya sempat terpotong. Sambil berjalan mencari tempat untuk membersihkan diri, mereka berbincang : Junior : ”sebentar senior…! (sambil berusaha menahan laju jalanya senior). Apakah memang seharusnya Tuhan itu ada?. Lalu bagaimana kita mengetahui keberadaanNya?. Dimana kita bisa menemuinya?. Hamba hampir putus asa wahai senior”. Sambil berjalan senior menjawab.
Senior : “Memang seharusnya Dia itu ada, tapi….”, dengan cepat junior menyela,
Junior : ”bagaimana bisa seperti itu, buktinya setelah bertahun-tahun kita mencariNya, tetap saja tidak mendapatkan hasil yang memuaskan”.
Senior : ’Betul juga kamu, tetapi dalam persemedianku waktu itu, aku sempat menemukan rumus-rumus untuk mendeteksi keberAdaanNya. Dan rumus itu telah saya uji kesahihannya.
Junior : ”WOW, menarik tuh…!!, berilah hamba sedikit pencerahan wahai senior!
Senior : ”Sebenarnya rumus ini hasil diskusi kita 13 tahun yang lalu tentang alam semesta beserta isinya.”
Junior : ”Oh..ya…ya…ya…saya ingat. Lalu apa yang terjadi dengan alam semesta berserta isinya itu wahai senior?”, dengan nada penasaran. Sang senior menghentikan laju jalanya sejenak untuk menjelaskan.
Senior : ”begini ceritanya, setelah saya menemukan tempat persemedian yang cocok dimana saya bisa bersua denganNya, sayapun merebahkan badan sambil istirahat dan tertidur pulas. Ketika saya bangun tiba-tiba dipinggir saya ada sebuah telur besar, sayapun kaget dan tidak tahu itu telur milik siapa yang berada ditempat terpencil seperti ini.?” sambil keheranan.dan junior menukas,
Junior : ”Saya tahu senior…itu adalah telur pemberian tuhan untuk engkau, supaya engkau tidak kelaparan”.
Senior : ”Mungkin saja begitu, tapi saya berpikir lain. Mustahil telur itu ada karena hasil ledakan atau dari sesuatu yang tidak ada.
Junior : ”Betul sekali engkau senior…!!, mustahil telur itu ada secara kebetulan dipinggir engkau. Juga mustahil telur itu ada dari sesuatu yang tidak ada, sehingga aku yakin telur itu ada pemiliknya. Tetapi apa maksudnya cerita telur ini senior menurut saya ga penting telur itu milik siapa!”. Sudahkah anda bertemu denganNya?”
Senior : ”Saya tidak bertemu dengan Dia, tetapi setelah kejadian itu saya merasa dekat dengan Dia. Apalagi setelah saya amati dengan pikiran saya tentang alam ini yang saya hubungkan dengan kondisi telur tadi. Akan sangat mustahil jika alam ini muncul karena ketidak sengajaan. Artinya, saya pikir Dia itu terang adanya.” Dengan perasaan campur aduk; tegang, takut, indah, puas dll, junior menyela.
Junior : ”Ok, ok, ok…engkau memang hebat senior. Cukup dulu!!!, sekarang aku merasakan kenikmatan kerinduanku padaNya. Wahai Engkau Yang Maha Ada aku bersyukur padaMu, karena Engkau telah Meng-ada-kan ku dan temanku ini.
Senior : ”ya seperti itulah yang kurasakan pula…bahkan lebih dahsyat. Sekarang cobalah rumus alamiah pendeteksi Tuhan ini barangkali engkau membutuhkanya untuk berargumentasi tentangNya. Ini dia rumusnya : A = A, A≠ T dan ,T = nihil/ non existence (tidak bisa di-interpretasikan), dan rumus yang satunya lagi yang masih berdampingan dengan rumus itu adalah sebagi berikut : Se -A-k -Ak- Ak …….
Junior mengajak untuk menghentikan perjalanan sejenak, untuk memejamkan matanya sambil menghirup udara segar. Tetapi berbeda dengan perilaku aneh junior, sang senior masih merasa was-was, karena takut rumus yang sederhana itu ada kesalahan penafsiran. Raut wajahnya sangat serius, pertanda harapan yang sangat besar untuk mendapatiNya. Bersambung…
Sesuatu yang Ada pasti muncul dari keberAda-an pula. Karena Ada adalah ada. Hanya yang Ada yang bisa memberi keberadaan. Mustahil yang Tidak Ada bisa memberikan keberadaan, karena Ada tidak sama dengan tidak ada. Tidak ada adalah Tidak Ada itu sendiri dan mustahil Ada, karena Tidak Ada bukan Ada. Ada adalah Abadi karena tidak terlahir dari ketiadaan dan tidak akan pernah tiada. Karena Ada adalah Ada dan bukan Tidak Ada. Dari rangkaian keberadaan itu terdapat hukum sebab-akibat yang tidak bisa tertolak. Sesuatu itu Ada pasti Ada penyebabnya, mustahil Ada secara kebetulan. Dia-lah Tuhan Yang MAHA ADA sebagai SEBAB AWAL bagi keberAdaan Alam semesta ini [-Perdi-]
Kontemplasi 1 Februari 10, 2009
Posted by Nugraha Perdi in agama.4 comments
Konon di sebuah wilayah terpencil nan asri. ada dua orang ahli pikir yang suci. Konon mereka masing masing sedang asyik berdiskusi tentang semua kejadian dialam ini termasuk pada dirinya.
Singkat cerita, saking hebatnya diskusi yang sudah berjalan cukup lama (sekitar delapan semester setengah masa perkuliahan) dan alot itu, cuma menghasilkan satu kesimpulan sementara yaitu mereka sepakat kalau mereka mencari informasi dulu seputar topik yang diperbincangkan yaitu masalah kejadian alam semesta ini.
Anehnya, penundaan diskusi itu mereka lakukan karena mereka sangat ketakutan dan penasaran yang kadang-kadang dibubui rasa haru. Pada waktu itu mereka mempunyai anggapan bahwa dari segenap kejadian di alam raya ini ada sesuatu hal yang mengendalikan (mencipta, mengintip, mengawasi, berbuat sesuatu tanpa ada yang memerintah/ semaunya). Perbincangan mereka sangat mengganggu pikiran mereka sendiri, mereka ketakutan sekali; bayangkan jika kita berjalan pada suatu hutan yang sangat lebat dan gelap, sehingga disana penuh dengan ketidak pastian yang membuat kita takut, disamping itu ada sesuatu hal yang mengintip kita dari kegelapan, yang mngendalikan kita sehingga kita tidak berdaya…uUh SerRaAm. Hal itulah yang membuat mereka menghentikan diskusinya.
Singkatnya, setelah diskusi itu selesai sementara waktu, lalu mereka berpisah untuk mencari dan menemukan “Sesuatu Yang Menguasai” itu. Pemikir 01 yang agak senior berkata :”Wahai sohib junior, hari ini kita berpisah untuk sementara waktu, Saya akan pergi ke dalam hutan belantara yang jauh dari keramain sehingga aku menemukan goa disana dan akupun akan cari Dia disana, mudah-mudahan ketemu”. Lalu pemikir 02 menjawab : “Baiklah senior, Saya juga akan pergi ke sebuah pulau yang berbukit paling tinggi, siapa tahu ia berada ditempat yang tinggi seperti itu”. “Baiklah kalo begitu, nanti 13 tahun mendatang kita kumpul lagi disini untuk melanjutkan diskusi kita tentang-Nya.” Jawab Pemikir 01.
Setelah 13 tahun berlalu, mereka bertemu lagi ditempat yang telah ditentukan. Tapi tiba-tiba ada anak kecil yang sedang mengembala kambing. Anak kecil itu merasa aneh terhadap mereka yang kucel-kucel, bau dan ga keurus itu, lalu dia nanya : “Hai, pak tua yang aneh-aneh, sedang apa disini?”. “Diam kau anak kambing…!!, kami sedang mencari Sesuatu Yang Menguasai Alam ini” kata Pemikir 02. Anak itu menjawab: “Oh…itu, Kata pa Ustadz, itu adalah Tuhan”. Dengan heran pemikir 01 menjawab : “Hah kau tahu tentang Sesuatu itu, dari mana informasi itu didapat Nak???!!.” Anak itu malah balik nanya : “emang buat apa?”. Kemudian dijawab oleh pemikir 02: “Kami ini sudah 13 tahun mencari Dia dan kami mau ketemu sama Dia, jadi beri tahulah kami dimana Ia berada!!”. tetapi anak itu malah tertawa “Ha..Hhhaa…100x, waduh gawat segede gini ga tahu dimana Dia, Ha..mendingan cuci dulu pakaianmu dan bersihkan badanmu dan rawatlah dirimu pak.”
Cerita ini merupakan pikiran selintas dari penulis tentang-Nya, Dia tidak akan pernah sama dengan apapun yang kita pikirkan atau konsepsikan. dan Dia pun bukan bersifat material yang bisa kita temui secara indrawi. Maha Suci Dia Dari Segala Keburukan. [-Perdi-]
Menyoal Gotong Royong ala Mang Eef Sebagai Alternatif Atas Kebobrokan Sistem Pembangunan Pemerintah November 18, 2008
Posted by Nugraha Perdi in agama.add a comment
Gotong royong merupakan produk unggulan gaya Mang Eef dalam menjalankan roda pemerintahan di Kab. Subang dalam periode sebelumnya. Hal ini dilakukannya sebagai strategi alternatif atas bobroknya sistem pembangunan pemerintah saat ini nyang menurutnya kurang efektif untuk dilaksanakan yang senantiasa hanya memihak pada kaum elite politik dan pengusaha saja sehingga pada akhirnya Rakyat pula-lah yang menjadi korban.
Barangkali, model pemikiran seperti itulah yang dapat saya tangkap dari seorang Eef Hidayat yang sekarang akan kembali beraksi dalam kancah pemerintahan daerah Kabupaten Subang (pemenang Pilkada Kab. Subang 2008; menang sekitar 262.825 suara dan unggul di 17 kecamatan dari 30 kecamatan yang ada di kabupaten Subang). Dengan semangat gotong royong dan mempertahankan tradisi lokal maka akan terasa lebih Efektif Efisien dan Produktif (EEF) dalam menuntaskan program pembangunan sehingga metode itu dapat dirasa sebagai petunjuk (HIDAYAT) bagi masyarakat yang kecil. Seperti itu barangkali…he..he.. so tw lo!!.
Sampai disini saya sepakat, tapi menurut saya sayang sekali kalau gotong royong hanya ditarik pada wilayah fisik (development) saja, karenanya gotong royong menjadi cacat akan makna generiknya yang berefek lebih luas dari sekedar development fisik saja.
Berkaitan dengan itu saya ketakutan ketika Gotong Royong hanya berkutat di wilayah fisik pembangunan saja. Bisa saja alih-alih bobroknya sistem pembangunan pemerintahan dalam pembangunan, maka menjadi pe-wajar-an terhadap tindakan korupsi. Sehingga pemikiran ini menjadi rancu dan sesat. Coba aja kita petakan pemikiran ini ; Oknum Pemerintah menjadi “Korban Paksaan” dari sistem yang amburadul sehingga ia jadi Korup. Sehingga konsekuensinya Rakyat-pun jadi korban atas tindakan Korup oknum pemerintah tersebut. Nah, kalo gini siapa yang mo disalahin, ya sistem-lah titik. Udah ga usah ngomong apa-apa lagi!!! SSSssstT!!…
Barangkali inilah yang disebut oleh Kang Jalal sebagai Fallacy of Misplaced Concreetness. atau dalam istilah logikanya adalah reification, yaitu menganggap real sesuatu yang sebetulnya hanya dalam pikiran kita saja. Lalu siapa sistem itu?, Bentuknya seperti apa?, Gimana cara dia maksa oknum pemerintah untuk Korupsi?.
Terlepas dari penyesatan pemikiran tersebut diatas, disini saya mencoba bergaya seperti para ahli, yang bisanya cuma ngomong+kritik, karena itu terasa lebih mudah. Sekali lagi, saya cuma tertarik sama gotong royongnya Mang Eef tapi tidak tertarik sama sekali sama yang melegalkan korupsi dengan cara apapun. Gotong royong yang bergaya “developmentalis” ini memang ada yang mengatakan ini merupakan cara modernisasi, The passing of a traditional society into a modern one (beralihnya masyarakat traditional menjadi masyarakat modern). Disamping itu saya berharap gaya gotong royong mang eef selanjutnya menjadi lebih greget lagi, bukan hanya dengan simbol-simbol seperti iket, tugu gotong royong, baju kampret dan calana hideung ngatung, karena menurut saya itu akan membuat masyarakat pusing aja..simbol perlu tafsiran/ persepsi yang pada akhirnya akan menjadi modal dari sikap dan tindakannya, syukur kalo tafsirannya positif, nah, kalo negatif..??, Belum lagi cost yang harus dikeluarkan untuk bikin iket, kampret, tugu dan simbol gotong royong lainya..waduuh brabe mang jigana!!. Tetapi dengan mengarahkan pada penyadaran terhadap masyarakat sehingga menjadi gerakan-gerakan sosial (collective action) untuk menyelesaikan problem sosial dan menjadi selarasnya antara Das Sollen dan Das Sein.
Seperti kata Kang Jalal: “Kita mengharapkan pemimpin yang sensitif terhadap aspirasi rakyat, dan bukan pemimpin yang sensitif terhadap aspirasi dirinya.” Amin.
Hidup gotong royong….!!!!, Mangga Mang wilujeng berjuang!. [Perdi]
Kearifan “islam sekuler” ala Cak Nur November 11, 2008
Posted by Nugraha Perdi in agama.add a comment
Mendengar kata sekuler pasti orang menganggap itu sesat. Karena sekuler mengandung makna umum sebagai pemisahan antara agama dan negara atau selain agama. Agama tidak mempunyai otoritas untuk mengatur kehidupan suatu masyarakat bernegara. Pandangan ini mebuat masyarakat khususnya masyarakat islam “trauma” dengan kata sekuler. Islam kan agama Rahmatan lil’alamin…
Berbeda dengan Cak Nur yang sangat memuji keanekaragaman bangsa/ budaya indonesia. Bicara indonesia berarti bicara budaya banget. Ia mengambil kata sekuler dengan maksud untuk memurnikan agama islam dan bukan sebaliknya. Dengan ikhtiar pemikirannya ia ingin memisahkan mana agama islam dan mana budaya atau selain islam. Bukanya memisahkan secara total hubungan islam dengan yang lainya.
Walaupun saya bukan Nurcholisme, tapi saya mandang pemikiran ini cukup arif dan bijaksana…
Dan tidak sepadan dengan berbagai sebutan negatif yang ditempelkan kepadanya. Barangkali, untuk masalah itu, terletak pada keterbatan pemikiran kita dalam mempersepsi pemikiran seorang Nucholish Madjid.