Tips and Trik Sukses UN ala Sakadang Kuya Maret 31, 2010
Posted by Nugraha Perdi in Pendidikan.trackback
Entah harus dari mana harus memulai, akhir-akhir ini UN menjadi topic hangat yang wajib mendapat perhatian dari setiap orang, dari mulai presiden sampai buruh tani yang mempunyai anak sekolah ikut nimbrung mengomentari perkara UN namun barangkali perbedaanya cuma dari isi obrolan. Kalau presiden dan menteri bicara bahwa harus melaksanakan UN dengan standar nilai ditentukan oleh Negara (baca: sekarang 5,5) dan sebagai tambahan kebijakan maka perlu ada ujian susulan bagi siswa yang tidak lulus UN, tapi kalau buruh tani bicara dengan menekan anaknya supaya harus lulus UN “…karena kalau tidak lulus kamu pasti tahu akibatnya hidup dijaman yang serba canggih, mahal, mewah, kerja susah, yang pada akhirnya kamu akan mewarisi penderitaan bapakmu sebagai buruh tani nak…”.
Perlu kiranya disinggung disini terkait kontroversi UN yang sekarang berlangsung, ada yang setuju dan ada pula yang tidak setuju yang didukung dengan berbagai argumentasi yang kuat dari masing-masing. Tapi sudahlah, disini tidak perlu lagi ada argumentasi penguat untuk mendukung salahsatu pihak. Hanya perlu sedikit sorotan yang lumayan lucu, bahwa dengan adanya UN ini jadi sering muncul di TV tentang banyak siswa yang nangis-nangis minta tolong sama tuhan untuk dimudahkan, bahkan ada yang stress ringan sampai berat. Dan jangan salah, guru pun merasakan hal yang sama namun tingkat ke setressannya lebih ringan dari siswanya dikarenakan barangkali karena pengalaman. Padahal beban profesi guru sangat berat, bayangkan saja dia (guru) mengajar selama 3 tahun dipertaruhkan hanya dengan kurang lebih 4 hari saja anak didiknya mengerjakan soal-soal UN. Hal tesebut juga berlaku terhadap siswa, belajar selama 3 tahun harus dipertaruhkan selama kurang lebih 4 hari saja.
Tips and trik sukses UN versi penulis sebenarnya sangat mudah dan sederhana saja;
“pada suatu hari sakadang kuya dan sakadang Monyet mau menanam pohon pisang. Sakadang Monyet menanam buahnya (jantung) dengan harapan supaya besok atau lusa tumbuh dan bisa langsung disantap. Tetapi sakadang kuya menanam anak pohon pisang dengan harapan pohon itu tumbuh normal sampai besar dan berbuah pisang yang matang dan sehat. Dengan nada keheranan sakadang monyet mengejek perbuatan sakadang kuya “hei Kuya, kamu itu aneh-aneh saja, mau pisang kok malah nanam anak pohon pisang…he he he, dasar blegug!” kemudian sakadang kuya jawab “emang kamu nanam apanya supaya jadi pisang ?, ga usah usil deh mending kita taruhan saja siapa duluan yang dapat pisang yang paling enak, ok!” . singkat cerita, setelah beberapa bulan hasil kerja sakadang kuya sudah mulai kelihatan, pohon yang dia tanam sudah mengeluarkan pisang, tetapi jantung yang ditanam sakadang monyet malah menjadi busuk.”
Tips : Dari cerita tersebut penulis mencoba mentafsirkan bahwa yang perlu disadari adalah tidak ada jalan pintas untuk menghasilkan sesuatu yang sehat dan nikmat semuanya butuh proses, terkadang menjalani proses sering tidak serius dan inkonsisten. Oleh karenanya, bisa kita kaitkan dengan apa yang sedang dibahas sekarang bahwa tak ada jalan pintas menuju UN.
Trik: setelah tips diatas maka telah menjadi aturan baku bahwa proses harus dilaksanakan dengan semaksimal dan sekonsisten mungkin terlepas dari bagus atau tidaknya hasil. Maka yang perlu disiapkan adalah sesuatu yang berkaitan dengan proses yang dalam hal ini adalah proses pembelajaran yang barangkali meliputi ; media, profesionalitas, kreatifitas dari pendidik dan peserta didik, dsb. [perdi]

Komentar»
No comments yet — be the first.