Bermutu HMI dan HMI Bermutu Maret 31, 2010
Posted by Nugraha Perdi in Organisasi.trackback
Telah lama aku tidak mengisi tulisan diblog kesayaganku, karena mungkin terlalu banyak hal yang membutuhkan semangat ikhtiari yang cukup serius. Maklumlah, kini ku kerja sebagai guru di sebuah sekolah menengah pertama jauh ditengah hutan yang beralaskan tanah merah, sehingga jika hujan sepatuku akan berubah warna yang tadinya hitam menjadi merah tanah dan lengket dikaki. Ah, ingin rasanya kuakhiri pengalaman ini. Tapi, aku sadar bahwa sewaktu aku di HMI aku ingin jadi instruktur.. apalah daya, keinginan tinggal hanya keinginan, aku hanya bisa menyalahkan diriku sendiri barangkali waktu itu aku belum bermutu sekelas HMI. Ketika bayangan keinginan itu muncul maka semangat mengajarpun muncul kembali.
Sulit ku terima, kini ku terdampar ditengah hutan belantara. Sedangkan kawanku seangkatan yang lulus seleksi sebagai trainer/ pemateri local dan interlokal di HMI kini hari-harinya dihabiskan diberbagai Negara orang. Hari ini jepang dan besok harus segera ke amerika serikat untuk mengisi materi, bahkan hari minggu-pun harus ia habiskan waktunya dinegara mesir untuk mengisi pengajian dengan kawan mahasiswa disana. Bahkan banyak kawan mahasiswa rusia, india sampai korea yang membutuhkan kajian-kajian bersamanya. Ya , maklumlah, secara internasional waktu itu hanya ada ratusan orang saja pemateri/ instruktur saja yang telah mendapatkan SK dari PB HMI Indonesia sebagai orang yang sudah Bermutu sekelas HMI, padahal anggota HMI diseluruh dunia waktu itu sudah hampir menyaingi penduduk Indonesia, hampir 200 juta orang yang tersebar diberbagai Negara.
Menjadi instruktur HMI waktu itu adalah prioritas utamaku daripada punya pacar. Bagaimana tidak, dari segi materi sudah dijamin. Fasilitas mobil mewah dan rumah mewah akan menjadi warna hidup mereka. Asuransi jiwa dan kesehatan diberi, padahal tanpa itu, meskipun masuk rumah sakit dijamin tidak akan bayar, karena HMi waktu itu mempunyai banyak rumah sakit gratis diberbagai cabang. Tidak hanya rumah sakit gratis, fasilitas pendidikan gratis seperti TK, SD/ MI, SMP/ MTs, SMA/ SMK/ MA dan perguruan tinggi/ universitas telah tersedia diberbagai cabang. Dan jika seorang instruktur HMI yang telah mempunyai keluarga dan mempunyai anak, maka anaknya bebas mau masuk sekolah manapun di HMI tanpa membayar iuran sepeserpun, bahkan setiap bulan ia diberi uang saku sebanyak Rp. 600.000,. Berbeda dengan orang miskin yang bersekolah di HMI, jika dia (anak orang miskin) bersekolah di HMI maka ia wajib mendapat tunjangan selama ia bersekolah sebanyak Rp. 2.500.000 per bulan.
Ah, ingin sekali aku bertemu dengan kawan sebangku-ku waktu ikutan basic training bersama. Dia sekarang tinggal di kota Amsterdam. Waktu aku kirim pesan lewat e-mail, dia sempat membalas suratku sambil merayuku untuk pergi ke Amsterdam. Padahal tiket pesawat waktu itu gratis kenegara manapun syaratnya harus menunjukan kartu keanggotaan HMI, karena bandara internasional tersebut adalah milik kader HMI. Cukup saja kubalas suratnya dengan “selamat berjuang kawanku, yakin usaha sampai”.
Kini ku telah beristri dan mempunyai satu anak. Untuk menafkahi anak istriku dengan susah payah aku banting tulang mengajar di Sekolah SMP negeri dengan gaji hanya Rp. 1.600.000,- per bulan, padahal jika saja aku lolos menjadi instruktur HMI waktu itu aku dan istriku serta anakku telah tinggal dirumah mewah dan memakai mobil mewah dengan gaji perbulanya sekitar 75 juta. Ah, hal itu kini tinggal kenangan.
Kenangan yang paling mengesankan di HMI waktu itu adalah ketika ikut basic training bersama kawanku itu, waktu itu kebetulan ada materi ICT yaitu tentang pengenalan seputar ilmu computer (software dan hardware) yang pematerinya adalah William Henry Gates (Bill Gates) pemilik perusahaan Microsoft corporation terbesar di amerika serikat dan didunia. Pada waktu Sholiskan tiba kawanku ingin minta tandatangan tapi bingung ngomongnya gimana, lalu aku kasih tahu dia untuk bilang “hi Mr. I want to drink, pliz!”, dan dia langsung mempraktekan saran saya itu.
Hampir saja ku teguk air teh manis di dalam gelas kesayanganku, istriku memanggil “ayahanda, hari ini masuk sekolah kan!???…” segera kurespon kalimat itu dengan ciuman di pipi istriku. Kalimat tadi merupakan kalimat pembuka di awal hariku untuk berikhtiar, artinya aku harus bangun dan kerja mencari sesuap nasi… [perdi]

Komentar»
No comments yet — be the first.