jump to navigation

Caleg Ksatria Pecundang 2009 Mei 27, 2009

Posted by Nugraha Perdi in agama.
trackback

“Partai kita bukanlah sebuah partai yang demokratis, paling tidak dalam arti traditional yang biasanya dilekatkan pada kata tersebut” (Gramsci, Mei 1925)

“tentang ‘kita’ dan ‘rakyat’ seolah-olah keduanya adalah entitas yang terpisah; di mana kita (siapakah yang disebutnya ‘kita’?), sebagai partai aksi, dan rakyat sebagai sebuah kawanan kaum buta dan bodoh”. (Leonetti)

Pesta Demokrasi. Seperti itulah yang hari ini masih ramai ditelinga sebagai sebutan lain untuk pemilu legislative tahun 2009. dimana orang-orang berebut untuk mendapatkan kursi di DPR pusat sampai DPRD Kota/ Kabupaten dengan alat perangnya tiada lain adalah partai. Peralatan perangpun mulai dipersiapkan apalagi pesta ini akan menentukan pesta selanjutnya, yaitu Pilpres, antara lain atribut partai diperbanyak guna membius minat masyarakat bawah, membentuk kelompok kecil yang siap mati di medan pertempuran (tim sukses) dan tidak lupa lumbung-lumbung logistic mulai dipertontonkan sebagai bentuk unjuk kekuatan partai.

Genderang perang telah dibunyikan, saatnya kini kita mempersiapkan diri. Saya tidak tahu apakah kita harus senang atau sedih. Pasalnya banyak Caleg sekaligus anggota dari sebuah partai politik yang mengalami depresi sampai ada yang mati dalam pertempuran. Mereka gugur karena didera kekalahan yang telak. Perjuangan mereka sudah ancur-ancuran dengan mengorbankan segala apa yang mereka miliki, meskipun tidak sampai menjual kolor mereka. Bagaimana hati tidak kan hancur jika kondisinya seperti itu. Lebih baik mati sebagai ksatria di medan pertempuran dari pada kalah menyedihkan, Wwwueeesh…

Sudah dapat diperkirakan sebelumnya, bahwa Caleg yang akan mengalami kekalahan dalam peperangan berjumlah sangat banyak karena tidak sebanding dengan kursi yang telah disediakan di Badan Legislatif yang relative lebih sedikit dari pada yang mendaftar untuk duduk di kursi tersebut. Jadi, Caleg “Ksatria Pecundang” pun sudah dapat diperkirakan akan membludak.

Istilah demokrasi yang seharusnya menuntut sikap terbuka dan saling menghargai serta legowo kini ternodai oleh para ksatria pecundang ini. Tidak jarang para caleg yang beradu fisik untuk berebut kursi. Sejujurnya saya tidak rela jika diantara mereka ada yang duduk dikursi legislative, karena merekalah yang akan menampung segala aspirasi rakyat dan menjalankan serta mengotak-atik system, bisa dibayangkan akan seperti apa jadinya. Selain mereka berdosa pada dirinya sendiri, mereka juga telah berdosa pada rakyat karena telah berkhianat. Dia dipilih oleh rakyat, tetapi mereka malah sibuk bertempur demi sebuah kursi bukan untuk rakyat tapi untuk dirinya sendiri. Rakyat adalah kawanan kaum buta dan bodoh yang harus mereka mainkan untuk menyokong kedaulatan mereka..

Lalu, orang seperti apakah yang layak duduk dikursi legislative itu?,

Yang jelas dia harus sudah melampaui batas-batas hasrat material atau duniawinya, sehingga dimata dia kepentingan bersama adalah prioritas yang harus diperjuangkan dari pada kepentingan pribadinya. Sisakanlah orang-orang seperti itu dimuka bumi ini ya Tuhan-ku, demi hamba-hambaMu yang menginginkan perubahan. Amin…calegila

Komentar»

1. mengs - Juli 5, 2009

bener mang aper banyak mereka yang duduk tanpa dasar kemampuan, mungkin itu akibat salah satu kelemahan dari sistem demokrasi, yaitu semua orang berharga sama SATU SUARA tak peduli itu seorang ulama ataupun pendusta. 80% masyarakat tak mengerti birokrasi dan ironisnya 10% persen yang mengerti malah jadi penjahat demokrasi