Kontemplasi 6 Mei 27, 2009
Posted by Nugraha Perdi in agama.add a comment
Riak-riak dari kejauhan sudah nampak tanda-tanda kehidupan manusia. Akhirnya para pemikir itu telah berhasil melewati hutan belantara selama kurang lebih satu hari satu malam. Hari menjelang senja dan cuaca yang sedikit mendung menggugah firasat mereka bahwa malam ini akan turun hujan dan mereka harus mendapatkan tempat berteduh dan beristirahat sejenak. Mulailah mereka mencari tempat tinggal hingga menemukan sebuah rumah yang besar dan megah, merekapun masuk menemui penghuni rumah itu dengan maksud untuk meminta ijin tinggal. Ternyata jauh dari harapan, mereka malah mendapat usiran karena pemilik rumah megah itu tidak mau ditinggali oleh orang-orang kumuh seperti mereka berdua.
Tidak putus asa mencari tempat penginapan gratis, akhirnya mereka menemukan sebuah rumah yang lebih kecil dan sederhana daripada yang tadi, tetapi merekapun mendapat perlakuan yang sama dari pemilik rumahnya. Dengan nada kecewa pemikir junior berkata; “Barangkali hanya Tuhan kita sajalah yang paling baik, yang memberikan segala sesuatu secara gratis tanpa pandang bulu, betul tidak senior?”. “Ya, kamu betul”, jawab senior singkat.
Hujan-pun mulai turun membasahi tubuh mereka dan hari semakin gelap menyelimuti alam raya sedangkan mereka belum mendapatkan tempat berteduh. Sambil berjalan setengah lari akhirnya mereka menemukan sebuah bangunan kumuh yang beratapkan jerami tanpa dinding. “bolehkah kami berteduh disini?”, Tanya senior sambil menyelipkan badanya dibawah atap jerami. “Oh, tentu saja boleh,mari silahkan”. Ajak salah satu penghuni bangunan tersebut.
Suasanapun mulai hening. Sambil menunggu hujan reda, junior mengajak ngobrol pada seniornya; ”aku tahu senior…kenapa dirumah bagus tadi kita di usir tetapi disini tidak kena usir”, kata junior dengan nada sok tahunya. ”ya, kenapa ya kok bisa gitu…?”, tanya senior penasaran. ”ya..karena rumah bagus tadi bukan tempat penginapan umum gratis, tetapi kalau disini kayaknya tempat pengungsian gratis. Lihat aja mereka penghuni tempat ini, jumlah mereka lebih dari 10 orang semuanya bawa tas besar-besar lagi pasti isinya pakaian+harta..kebanjiran kali yeach…”, jawab junior dengan sedikit berbisik pada seniornya. ”SSsstt…sudahlah wahai junior, janganlah kau membicarakan orang lain, itu tidak baik, OK!!”. kata senior dengan nada protes.
Sejenak suasana hening kembali. Udara malam mulai terasa dingin menembus kulit mereka. Orang-orang penghuni gubuk itupun sudah tertidur pulas. Melihat perbekalan mereka, sepertinya mereka adalah orang-orang pengelana yang telah melakukan perjalanan jauh, entah akan kemana akan terus berjalan.
Ditengah suasana yang hening itu, tiba-tiba junior bertanya pada seniornya; ”O ya senior, setelah dipikir-pikir kenapa juga tuhan menciptakan manusia secara beragam, ada yang miskin ada yang kaya, ada yang percaya pada-Nya ada juga yang tidak seperti kepala suku brenye dari pulau capung itu, kenapa ya senior, padahal Dia kan Maha Kuasa,kenapa Dia tidak menjadikan kita semua orang yang kaya dan taat kepada-Nya, pasti semuanya aman lancar dan terkendali, betul tidak senior?”. ”ooOh…jadi kamu udah mulai frustasi miskin terus…?!!. menurut saya, Tuhan kita tidak mungkin sedang main-main. Keragaman adalah kehendak dari-Nya yang Maha Bijak. Banyak hikmah yang dikandung dari keberagaman, salahsatunya kita bisa saling memberi dan menyayangi, dan itu akan terasa lebih indah, betul tidak?…dan berarti, tindakan menyeragamkan dari keragaman anugerah Tuhan ini sama dengan melawan hukum Tuhan itu sendiri dan itu mustahil”, Argunmen senior.
Argumentasi dari seniorpun dijawab dengan ngorok yang menarik dari juniornya. Dengan nada kesal senior berkata; ”hei..junior, argumentasi saya belum selesai..!!”. meski mendapat teguran dari seniornya junior tetap saja betah dialam bawah sadarnya. [-perdi-]
Bersambung….
Caleg Ksatria Pecundang 2009 Mei 27, 2009
Posted by Nugraha Perdi in agama.1 comment so far
“Partai kita bukanlah sebuah partai yang demokratis, paling tidak dalam arti traditional yang biasanya dilekatkan pada kata tersebut” (Gramsci, Mei 1925)
“tentang ‘kita’ dan ‘rakyat’ seolah-olah keduanya adalah entitas yang terpisah; di mana kita (siapakah yang disebutnya ‘kita’?), sebagai partai aksi, dan rakyat sebagai sebuah kawanan kaum buta dan bodoh”. (Leonetti)
Pesta Demokrasi. Seperti itulah yang hari ini masih ramai ditelinga sebagai sebutan lain untuk pemilu legislative tahun 2009. dimana orang-orang berebut untuk mendapatkan kursi di DPR pusat sampai DPRD Kota/ Kabupaten dengan alat perangnya tiada lain adalah partai. Peralatan perangpun mulai dipersiapkan apalagi pesta ini akan menentukan pesta selanjutnya, yaitu Pilpres, antara lain atribut partai diperbanyak guna membius minat masyarakat bawah, membentuk kelompok kecil yang siap mati di medan pertempuran (tim sukses) dan tidak lupa lumbung-lumbung logistic mulai dipertontonkan sebagai bentuk unjuk kekuatan partai.
Genderang perang telah dibunyikan, saatnya kini kita mempersiapkan diri. Saya tidak tahu apakah kita harus senang atau sedih. Pasalnya banyak Caleg sekaligus anggota dari sebuah partai politik yang mengalami depresi sampai ada yang mati dalam pertempuran. Mereka gugur karena didera kekalahan yang telak. Perjuangan mereka sudah ancur-ancuran dengan mengorbankan segala apa yang mereka miliki, meskipun tidak sampai menjual kolor mereka. Bagaimana hati tidak kan hancur jika kondisinya seperti itu. Lebih baik mati sebagai ksatria di medan pertempuran dari pada kalah menyedihkan, Wwwueeesh…
Sudah dapat diperkirakan sebelumnya, bahwa Caleg yang akan mengalami kekalahan dalam peperangan berjumlah sangat banyak karena tidak sebanding dengan kursi yang telah disediakan di Badan Legislatif yang relative lebih sedikit dari pada yang mendaftar untuk duduk di kursi tersebut. Jadi, Caleg “Ksatria Pecundang” pun sudah dapat diperkirakan akan membludak.
Istilah demokrasi yang seharusnya menuntut sikap terbuka dan saling menghargai serta legowo kini ternodai oleh para ksatria pecundang ini. Tidak jarang para caleg yang beradu fisik untuk berebut kursi. Sejujurnya saya tidak rela jika diantara mereka ada yang duduk dikursi legislative, karena merekalah yang akan menampung segala aspirasi rakyat dan menjalankan serta mengotak-atik system, bisa dibayangkan akan seperti apa jadinya. Selain mereka berdosa pada dirinya sendiri, mereka juga telah berdosa pada rakyat karena telah berkhianat. Dia dipilih oleh rakyat, tetapi mereka malah sibuk bertempur demi sebuah kursi bukan untuk rakyat tapi untuk dirinya sendiri. Rakyat adalah kawanan kaum buta dan bodoh yang harus mereka mainkan untuk menyokong kedaulatan mereka..
Lalu, orang seperti apakah yang layak duduk dikursi legislative itu?,
Yang jelas dia harus sudah melampaui batas-batas hasrat material atau duniawinya, sehingga dimata dia kepentingan bersama adalah prioritas yang harus diperjuangkan dari pada kepentingan pribadinya. Sisakanlah orang-orang seperti itu dimuka bumi ini ya Tuhan-ku, demi hamba-hambaMu yang menginginkan perubahan. Amin…
Sekolah! Mei 11, 2009
Posted by Nugraha Perdi in agama.1 comment so far

Karena setiap orang wajib menggunakan potensi akal pikirannya untuk mengetahui sesuatu, maka setiap orang itu berhak mendapatkan ilmu pengetahuan baik secara formal ataupun nonformal. Kondisi ini menuntut negara untuk bertanggungjawab terhadap rakyatnya agar setiap orang tanpa pengecualian harus bisa merasakan nikmatnya menimba ilmu di sekolah. Sekolah merupakan sarana formal untuk menuntut ilmu sebagai upaya Negara untuk mempermudah rakyatnya dalam mengaktifkan potensialitas akalnya demi kehidupan yang lebih berharga. Jika, masih banyaknya problem dalam masalah pendidikan kita hari ini, maka hal itu mencerminkan kedustaan serta pengkhianatan Negara terhadap rakyatnya.
Belajar ! Mei 11, 2009
Posted by Nugraha Perdi in Pendidikan.add a comment
Belajar merupakan gerak alamiah manusia dari ketidaktahuan menjadi tahu dalam arti proses menuju pengetahuan baru. Belajar adalah konsekuensi bagi mereka yang masih mempunyai akal pikiran. Menghentikan proses belajar berarti menghilangkan identitas sebagai makhluk yang berakal. Dan ketika itu pula dia sudah mensejajarkan posisinya dengan hewan atau tumbuhan. Secara otomatis tindakan dia merupakan tindakan orang tersesat, karena dia telah merendahkan martabatnya sebagai makhluk paripurna ciptaan Tuhan.