jump to navigation

Kontemplasi 5 April 15, 2009

Posted by Nugraha Perdi in Cerita.
add a comment

kontemplasi-5Dari awal percakapan dengan ustaz keramat hingga akhir, tidak sedikitpun keterangan yang mereka dapat terkait masalah yang melanda mereka, kecuali beberapa kutukan saja dari pak ustaz keramat kepada mereka berdua. Perasaan kecewa melanda mereka, ternyata yang mereka anggap ahli dibidangnya kurang bisa memberikan jawaban yang jelas sehingga tidak dapat memuaskan keinginan mereka untuk mendapatkan informasi yang jernih yang didasari oleh pemikiran secara rasional tentang-Nya.

 

Hebatnya, kegagalan pak ustaz keramat dalam berargumentasi secara rasional tentang ketuhanan itu tercover oleh predikatnya sebagai ustaz yang “memegang” otoritas tertinggi karena dia mengetahui terjemahan kitab suci dari tuhan. Kitab suci menjadi senjata paling ampuh untuk memelintir siapa saja yang mencoba mengkritik dia, sekaligus sebagai tameng yang kuat untuk menutup (bloking) kelemahan dia. Kelebihan dari pak ustaz dalam menyelesaikan masalah adalah dari segi efektifitas waktu, yaitu dalam hitungan menit permasalahan akan cepat terselesaikan dengan lancar meskipun lawan bicaranya merasa agak dirugikan karena mendapat teroran neraka jahanam dan kutukan lainya. Maka, tak heran jika ada seseorang yang menentang atau mengkritik dia, sudah dipastikan seseorang itu akan menderita penyakit stress mental karena tidak kuat menerima kutukan ustaz keramat tersebut.

 

Dalam perjalanan yang tak tentu arah, pemikir senior merasa curiga atas kelakuan pemikir junior yang kadang-kadang bicara sendiri dengan gerak-gerik yang tidak wajar. Awalnya senior cuek aja, tetapi karena takut terjadi apa-apa sama junior, seniorpun mencoba untuk care padanya dengan menanyakan keadaan junior; “hei junior ada masalah apa gerangan engkau bicara sendiri seperti yang ketakutan?”. “ah..tidak, aku hanya teringat saja perkataan-perkataan yang dilontarkan pak ustaz keramat pada kita”, jawab junior. “perkataan apa yang kau maksud?”, tanya senior dengan penasaran. “ah..tidak, aku hanya kepikiran saja bagaimana jika yang dikatakan ustaz itu benar, dan kitapun akan terpanggang diatas api yang panas (neraka) seperti gorengan…wuidiiih serrem senior, aku jadi tidak semangat hidup dibuatnya”, jawab junior dengan ketakutan. “ya makanya jangan kurang ajar sama Tuhan, Dia udah ngasih akal pada kita tapi tidak dimanfaatin, itu namanya kurang ajar”, jawab senior. Maksud senior apa?”, Tanya junior. “ya karena kita punya akal pikiran, wajar dong kita nanya untuk mencari tahu tentang sesuatu, apalagi sesuatu itu adalah Tuhan yang telah memberikan fasilitas akal pikiran hanya pada kita umat manusia. Semenjak kita ketemu pak ustaz kita kan cuma nanya, so, kenapa kita dapet kutukan?”, jawab senior. Dan sambil berbisik senior menambahkan argumentasinya; ”jadi, yang pertama kali dia kutuk sebenarnya adalah dirinya sendiri karena sejak awal dia telah melarang kita untuk bertanya tentang-Nya dan berarti dia juga yang kurang ajar karena melarang memanfaatkan fasilitas dari Tuhan ini”. ”masihkah kamu takut akan neraka wahai junior?, aku sarankan sebaiknya kamu lebih takut ketika engkau tidak bisa mendekati-Nya”. Saran senior pada juniornya.

 

Perasaan junior-pun lebih lega dari sebelumnya lantaran mendapat wejangan dari seniornya. Ketika mereka sedang menelusuri hutan, serentak langkah senior terhenti karena melihat seekor ular besar yang sedang mengerami telurnya. Dan seketika itu pula senior teringat akan telur yang dia temukan tempo dulu di sebuah goa pengasingan. Telur ular itu persis seperti telur yang ia temukan itu. Betapa kagetnya ia, andaikan telur itu adalah benar milik ular itu, berarti waktu itu ia sedang tidur bersama ular besar itu. Sambil bersembunyi, merekapun istirahat dibawah pohon besar yang daunya sangat lebat. Untuk mengatasi rasa takut mereka terhadap ular besar itu, merekapun berbincang kembali; ”wahai senior, kita tidak mungkin berjalan terus begini tanpa tujuan, bisa-bisa kita mati dijalan atau ga kita mati dirampok binatang buas..”. kata junior membuka percakapan. ”engkau benar wahai junior. Aku jadi teringat kata-kata terakhir pak ustz keramat itu”. Jawab senior. Dan dengan nada ketakutan junior-pun menyela; ”tolong jangan lagi kau bicarakan nerakanya pak ustaz Keramat itu wahai senior..ngeri ah!!”. ”bukan itu, tapi tentang orang Atheis yaitu Kepala Suku Brenye dari Pulau Capung itu, gerangan dimana tempat itu berada wahai junior?”. jawab senior. Dengan nada semangat junior menjawab; ”Ahha…kalo gitu mari kita lanjutkan perjalanan kita ke pulau capung”. ”Oh, jadi kau mengetahui tempat itu wahai junior?”. tanya senior dengan nada gembira. ”kita telusuri saja hutan ini, dan setelah mendapati suatu perkampungan, kita tanyakan kepada penduduk dimanakan gerangan pulau capung itu berada…mari senior”. Jawab junior sambil mengulurkan tanganya pada seniornya untuk bangkit dari duduknya dan segera melanjutkan perjalanan. ”kamu sangat betul sekali”, kata senior dengan nada sebel karena merasa dibodohi juniornya. Dan merekapun melanjutkan perjalanannya menuju Pulau Capung. [-perdi-]

 

Bersambung…

 

KOntemplasi 4 April 15, 2009

Posted by Nugraha Perdi in Cerita.
add a comment

kontemplasi41Atas petunjuk si penjual firman Tuhan merekapun sampai disebuah tempat peribadatan, dan ditempat itu pula mereka bertemu dengan ustadz keramat yang fatwa-fatwanya sangat dipatuhi oleh setiap orang, lantaran dia mempunyai ilmu yang mendalam. Dalam menjelaskan tentang sesuatu, sudah dapat dipastikan dia akan menggunakan kitab suci dan keterangan lain yang tidak bisa diganggu gugat. Bicaranya sangat pandai, penampilanya-pun mengundang simpati dan rasa segan dari setiap orang yang berjumpa dengan dia, bagaimana tidak, jubah putih yang panjang, kepalanya diikat seperti obat nyamuk, tidak lupa sorban yang menggelantung dipundaknya membelit leher, janggut lebat yang hamper nyambung sampai godeg, benar-benar mencirikan orang yang soleh dan berilmu tinggi. Ia mempunyai banyak murid, yang sebagian besar muridnya adalah anak-anak seusia Sekolah Dasar selebihnya seusia SMP. Jika ada permasalahan dalam hal keagamaan, dia akan jawab dengan sangat mudah dan singkat lantaran ilmunya itu. Jangankan masalah agama, masalah politik social dan budaya-pun dia sanggup menjawab setiap permasalahannya. Bisa dibayangkan, apalagi ini yang menyangkut masalah Tuhan, yang sangat mendasar dalam hal keagamaan, dalam pemecahannya bisa sambil merem saja sudah dipastikan beres dan tuntas. Dan akhirnya perbincangan-pun sudah tidak bisa ter-elakan lagi;

 

Ust. Keramat : ”ada maksud apa gerangan saudara datang kemari?”

Senior           : ”begini pak, kami mendapat informasi dari seorang pedagang kitab, bahwa anda adalah orang yang ahli dibidang ini”.

Ust. Keramat : ”Bidang apa yang saudara maksud?”. dengan cepat junior menjawab

Junior           : ”bidang ketuhanan pak”. Dengan nada heran dan sedikit emosi  ustadz jawab;

Ust. Keramat : ”Apa…??!!,emang tuhan punya bidang apa?, awas…!! hati-hati kalau bicara. Tuhan itu Maha Suci, Maha Mulia, Maha Pengasih dan sangat Sakral, jadi tidak boleh sembarangan ngomong tentang Dia. Kalau anda berbicara sembarangan, maka anda akan celaka. Anda akan tergolong dengan orang-orang musyrik yang menyekutukan Tuhan. Dan dosa musyrik itu adalah dosa yang paling besar yang tidak bisa terampuni, jika kalian melakukannya, maka kalian akan menjadi penghuni neraka jahanam yang amat panas selama-lamanya alias abadi”… disela pembicaraan tiba-tiba Senior mengacungkan tangan dengan maksud memotong pembicaraan ust. Keramat yang sudah sampai akhirat itu.

Senior          : ”Euu…maksud kami datang kesini, mau mencari informasi tentang Tuhan, barangkali bapak ust. Keramat bisa bantu kami…?!, kami sudah berusaha sekuat tenaga dan pikiran kami untuk mencari informasi sekaligus fakta tentang-Nya, dengan maksud supaya kami bisa mencintai Dia sepenuh dan setulus hati kami. Biarkanlah kami menjadi saksi atas keagungan-Nya”.

Ust. Keramat : ”Ooh…kalau begitu saya sampaikan sebuah informasi tentang-Nya. Bahwa Dia itu adalah Tuhan Yang Maha Esa, Dia tidak beranak dan diperanakan, dia juga berbeda dengan selain-Nya, Dia itu Maha perkasa yang menciptakan langit, bumi beserta isinya, jadi anda-anda sekalian wajib menyembah-Nya, titik”.

Senior           : ”lalu bagaimana anda bisa menjelaskan bahwa Dia itu adalah Esa sedangkan keberadaan-Nya pun belum anda jelaskan. Kenapa Dia harus ada?, dimana dia?, kenapa dan buat apa Dia menciptakan kita semua?…”.

Ust. Keramat : ”Bertobatlah wahai engkau hamba-hamba tuhan…saya ingatkan kalian sekali lagi, kalian bisa terjerumus kedalam api neraka yang paling dalam dan panas. Sebaikanya kalian sudahi saja usaha kalian untuk bertanya tentang Tuhan. Lebih baik urusi saja diri kalian masing-masing, carilah kebahagian hidupmu didunia ini dengan memperbanyak ibadah kepada-Nya. Jangan sia-siakan hidup ini yang sudah diberikan Tuhan pada kita semua”.

Senior           : ”bagaimana saya bisa beribadah dengan fokus…sedangkan yang saya ibadahi-pun saya tidak kenal bahkan tidak tahu sama sekali”. Dan juniorpun mencoba menambahkan argumentasinya.

Junior            : ”engkau betul wahai senior..pepatah lama-pun bilang tak kenal makanya tak sayang dan tak sayang makanya tak cinta. Nah, kalau kita ga kenal sama Dia bagaimana Dia bisa sayang sama kita”.

Ust. Keramat : ”Ok, kalau kalian tetap seperti itu kalian akan mendapat azab dari Tuhan, kalian akan dimasukan kedalam lautan api neraka yang sangat panas, tubuh kalian akan disetrika, dibakar dan dipotong-potong. Hidup kalian didunia inipun tidak akan mendapat berkah dari Tuhan lantaran kelakuan kalian yang melecehkan Tuhan itu, pergi kalian dari sini, saya tidak mau melihat orang-orang kafir seperti kalian…!!!”.

Senior          : ”Pak Ustaz Keramat salah jika bapak mengira bahwa saya akan takut dengan kutukan bapak. Lagian saya-pun masih belum mengerti tentang neraka, buat apa tuhan menciptakan tempat seperti itu, bukankah Dia itu maha pengasih seperti yang bapak bilang, lalu kenapa dia menyiksa sebegitu parahnya. Andaipun saya masuk neraka seperti yang bapak maksudkan, saya akan sangat merasa rela dan bahagia asalkan yang memasukan saya ke neraka adalah Tuhan dan bukanya bapak ustaz”. Dengan nada tenang junior menambahkan;

Junior           : ”anda tenang aja pak ustaz..!, Tuhan akan mengampuni kami. Mari senior, kita pamit”.

Ust. Keramat : ”Hei…jangan kurang ajar ya, Tuhan tidak akan mengampuni kalian…kalian berdua sama saja seperti Kepala Suku Brenye dari pulau capung yang Atheis itu..kalian semua termasuk orang-orang kafir nan musyrik yang dikutuk Tuhan. Sialan loh…!!”. Teriak pak ustaz keramat kepada mereka yang sedang berjalan meninggalkan tempatnya sambil menunjukan tangannya kepada mereka berdua.

 

Akhirnya, merekapun pergi meninggalkan tempat ustaz keramat itu setelah kenyang dikutuk abis-abisan plus usiran secara tidak hormat…[perdi]

 

 

Bersambung….

Guru Sukwan Harus Bergerak!!? April 15, 2009

Posted by Nugraha Perdi in Sosial.
add a comment

sukwan“Perjuangan kelas akan tetap ada bahkan meski kaum borjuis dan para intelektualnya, yang merupakan ‘tentara-tentara bayaran’ kaum borjuis, menyangkal keberadaannya.”

(Antonio Gramsci)

 

Kehadiran Guru Sukarelawan (Sukwan) atas kebijakan pemerintah indonesia semakin menambah deretan cara penindasan baru bagi rakyatnya. Pasalnya orang yang rata-rata memiliki latar pendidikan Sekolah menengah sampai perguruan tinggi ini dipekerjakan sebagai tukang. Mereka menerima bayaran hanya satu minggu sedangkan kerja mereka harus satu bulan. Langkah program pendidikan ini sudah menyalahi kodrat kemanusiaan, yang seharusnya ketika mereka kerja maka ketika itu pula mereka mendapat bayaran sebelum mulut mereka basah lagi setelah kekeringan lantaran bicara dikelas dalam hitungan jam.

 

Ambil contoh konkritnya seperti ini; 1 jam mereka dibayar 10.000. missal saja dalam satu minggu mereka mempunyai 10 jam. Secara otomatis dalam satu bulan mereka punya 10 jam x 4 minggu = 40 jam. Tetapi, bayaran yang diterima mereka pada tanggal yang tidak menentu adalah Rp. 100.000,-, karena hitungan atau rumus yang digunakannya adalah rumus ”nilai sukwan”, nilai sukwan berarti nilai suka-suka aja, mau berape juga suka-suka gue, lantaran gue juga yang ngasih. Secara hitungan pake akal waras, saya yakin hasil keringat guru sukwan selama satu bulan bukan di angka Rp. 100.000,-

 

Praktik “nilai lebih” yang merupakan produk kapitalis ini akan menjadi pemicu munculnya gerakan baru dari “Tukang Pengajar”. Jangan salah, mereka mempunyai basic pendidikan yang cukup tinggi, maka ketika mereka menemukan posisi mereka saat ini, sudah dipastikan gelombang reaksi dari buruh pengajar akan bergejolak. Mereka mempunyai modal untuk melakukan gerakan  itu, karena mereka orang-orang beruntung yang bisa sekolah kejenjang lebih tinggi yang tentunya tidak menelan biaya yang sedikit. Selain dari pada itu mereka mempunyai jaringan-jaringan yang dapat dengan mudah mereka akses sehingga berpotensi untuk menjadi sebuah gerakan kolektif.

 

Guru sukwan serta buruh-buruh se-nusantara bersatulah…!!!!,

 

Sangat sejalan dengan nama yang disandangkan pada Tukang Mengajar ini yaitu sebagai Guru Sukwan. Nama sukwan menjadi alasan jitu untuk menutupi kebobrokan system pendidikan kita sekaligus untuk melegalkan cara penindasan. “la wong namanya juga sukarelawan kok…mbo ya jangan diributin to, mo berapa aja bayarannya, mo seberapa lama kerjanya… Dah dapet juga masih untung..!!!, pemerintah justru membantu mereka yang kesusahan cari kerja, mau apa lgi sichh…”. kalimat itu pasti muncul dan benak kita men-sah-kan itu, karena sudah terlanjur nama yang menarik itu yang dilekatkan oleh pemerintah sudah mengotori pikiran kita, sehingga pikiran kita menjadi rancu dalam memandang masalah tersebut.

 

Kualitas pendidikan bukanlah ditentukan oleh sebuah nama yang direkayasa sedemikian rupa. Tetapi bagaimana pemerintah menyediakan anggaran untuk menopang kualitas pendidikan dan para pendidik untuk mengembangkan potensinya. Harapan agar wajah buruk pendidikan kita semakin jelas terlihat sehingga setiap individu bisa mengontrol setiap kebijakan secara nyata dan tidak asal kontrol pake cara boong-boongan….. [Perdi Abu Ghaida’]