Kontemplasi 3 Maret 24, 2009
Posted by Nugraha Perdi in agama.trackback
Akhirnya mereka menemukan tempat “pembersihan natural” yang tersedia seolah tanpa batas yaitu sungai yang lebar berbatu dengan air yang begiiitu jernih. Seketika junior berkomentar “UWwwaahh…lihat sungai itu senior, Tuhan kita memang baik senior, sungguh sangat beruntung kita, Dia Tahu apa yang kita mau, tapi…sebenarnya ini semua untuk siapa ya…?”. Dengan sedikit heran senior jawab “apa…nanya apa kamu ini junior?, maksud kamu apa yang untuk siapa itu?”. Kemudian junior jawab; “ya ini, masa ya itu…, maksud saya dari mulai udara segar yang membuat pernapasan saya jadi lega, kemudian air yang jernih yang membuat badan saya fresh, pohon besar berlumut hijau, bunga yang berwarna-warni nan indah yang membuat mata saya ceria, tidak lupa binatang-binatang air, darat dan udara yang beragam ini. Tentunya ini semua tidak akan habis jika untuk kita berdua sampai kita mati pun, betul tidak senior?”. Dan senior jawab; ”Ahh..kamu ada-ada aja, kamu tuh ke PD-an, kamu merasa kamu memiliki ini semua dengan alasan tuhan telah memberikan ini pada kita, padahal tidak seperti itu kan, coba lihat diseberang sungai sana, masih ada manusia-manusia yang menggunakan fasilitas Tuhan ini”. ”mana…mana senior, bila perlu kita usir saja mereka!!”, jawab junior dengan semangat juangnya. Dengan nada bijak senior jawab; ”tidak wahai junior…!! mereka juga makhluk Tuhan, mereka berhak memanfaatkan fasilitas dari Tuhan ini. Kasian kan, coba lihat perempuan berkulit putih dan berambut panjang itu!, kalo dia tidak membersihkan badan dan pakaian dalamnya, bisa-bisa dia jadi perawan seumur hidupnya”. Dengan nada semangat juangnya junior menjawab; ”Mana…mana…mana..wahai senior, bila perlu kita beritahu dia bahwa ini adalah fasilitas yang Tuhan berikan untuk kita semua, kita bebas memanfaatkannya demi kebaikan kita dan tanpa dipungut biaya!!!, betul tidak senior?”. senior memberi respon; ”kamu betul, tapi mendingan kamu urusi dulu badanmu dengan fasilitas Tuhan-mu itu, biar bisa mendekatinya dan tidak disangka penghuni hutan ini karena badanmu yang dekil and the kumel itu”.
Singkat cerita, atas dorongan kemanusiaan mereka berdua mencoba untuk mendekati para perempuan itu guna untuk menjalin komunikasi kembali dengan manusia lain. Dan atas petunjuk perempuan itu, maka sampailah mereka disebuah perkampungan yang cukup ramai karena banyaknya pedagang. Hal pertama yang mereka cari adalah orang yang sedang ngobrol, barangkali saja mereka sedang ngobrol tentang Tuhan, dan rencananya mereka akan melibatkan diri. Dari kejauhan mereka berdua melihat seorang pedagang yang berpakaian gaya arab borju. Terdengar suara pedagang itu menawarkan produk unggulannya; ”Wahai umat manusia…!!, marilah kemari, disini dijual kitab suci wahyu Tuhan untuk segenap manusia penghuni bumi ini, barang siapa yang ingin selamat dunia wal akhirat, maka disinilah jawabannya, kemarilah!!!”. tanpa basa-basi merekapun menghampiri pedagang itu dan segera memulai obrolannya dengan tawar menawar harga;
Junior : ”berape hargenye sob…?, awas ya, jangan sampe mengecewakan. Saya ingin yang kualitas dan khasiatnya bagus, kira-kira yang mana ya?”
Pedagang : “harganya Rp. 45.000,-, menurut ana, harga segitu tidak sebanding dengan khasiatnya. Ini adalah kitab suci yang turun langsung dari Tuhan. Orang jaman sekarang lebih rela uangnya dibelikan roti bulat didalamnya ada tumpukan rumput mentah, daging setengah matang, saos, tomat dan bawang serta menu modern lainya, dan harganya pun lebih mahal dari kitab suci ini. Mudah-mudahan anda tidak termasuk orang yang tersesat seperti itu. kitab ini adalah ilmu Tuhan. Dalam salah satu ayatnya Dia berkata tentang keharusannya setiap manusia untuk menimba ilmu, dan inilah ilmu itu. maka, belilah barang suci ini, niscaya engkau akan selamat.”
Senior : ”Sebentar pak, saya pusing dengan pembicaraan anda. Anda menjual kitab suci/ wahyu tuhan, dan dengan wahyu Tuhan anda promosikan kitab suci demi uang sebesar Rp.45.000,-…?!!??, apakah anda sudah minta ijin pada tuhan untuk menjual firmanNya?, kalo sudah, seharusnya uang hasil dagangan itu dibagi dua sama Tuhan karena kau menjual Perkataan/ firman Dia…??!”.
Pedagang : ”Euu….eu…..maksud saya???…><
Junior : ”sejauh mana anda mengenal Dia?”.
Pedagang : ”Saya mengenal Dia lewat FirmanNya di Kitab Suci ini”
Senior : ”lalu bagaimana kalo ada kitab suci lain yang mengatakan bahwa Dia itu tidak ada, atau Tuhan itu adalah manusia suci yang beranak banyak..?, bagaimana kau menjelaskan hal itu semua?!
Pedagang : ”Ya terserah, yang penting ana tetap berpegang pada kitab yang paling suci dan paling sempurna ini”.
Senior : ”sepertinya anda masih mengalami kekeliruan. Seharusnya anda mengenal Tuhan terlebih dahulu daripada firmanNya. Anda tahu Dia dari kitab ini, sedangkan kitab ini dari Dia. Sungguh sulit kuterima”.
Pedagang : ”Maaf, ana cuma mau melayani yang akan mau beli kitab suci ini saja. Keahlianku cuma bisnis kitab. Sebaiknya ente-ente cepatlah bertobat sebelum Tuhan murka pada ente, datangilah Ustadz Keramat yang berada diujung jalan ini, mintalah pencerahan darinya. Wasalam”.
Bersambung…
Proses berpikir secara filosofis tentang ketuhanan selalu menghadapi kekacauan jika didialogkan dengan tanpa prinsip berpikir yang benar. Menurut saya proses seperti ini sah untuk dilakukan dan akan mempunyai nilai lebih jika memang telah menguasai ilmu alat seperti filsafat dan logika. Kasarnya ketika berbincang dengan tukang jualan ayat suci-pun akan tetap PD karena telah memiliki dasar filosofis yang runut dari pada pedagang firman yang hanya tahu dari informasi sebuah teks atau terjemahan ayat-ayat. [perdi]
Pencarian Tuhan……sungguh suatu kajian yang menarik bagi saya, bagaimana tidak? sekarang ini kebanyakan orang (yg saya bidik adalah anak muda) mengenal Tuhan atas dasar warisan dari orang tuanya. Sebenarnya sah2 saja tentang istilah mewarisi keyakinan ini, tp apa tidak lebih baik jika mereka mengkaji lebih jauh tentang Tuhan (yang saya maksud mengenal lebih dekat). Karena menurut logika saya jika kita bs lebh dekat dengan Tuhan apalagi jika kita bisa merasa setiat hari kita selalu berdampingan dengan Tuhan tanpa sedikit pun sesuatu yang menghalanginya maka niscaya segala perbuatan kita akan sejalan dengan firman-Nya. Sebagai contoh kecil adalah kedekatan saya dengan teman saya yang mempercayakan usahanya untuk saya kelola, jika saya tidak memiliki ‘kedekatan’ yang spesial gak pake telor hahaha rehat dulu plend tegang leher miki mulu neh. maka saya bisa saja memalsukan pendapatan usahanya, namun karena kami memiliki ‘kedekatan’ itu maka saya sebisa mungkin menjaga amanah yang dia berikan pada saya, kurang lebih seperti itu perumpamaanya. ya maap kalo pemikiran saya cètèk, saya kan wong ndeso wekwekwek tos ah, wassalamualaikum.