jump to navigation

Kontemplasi 2 Maret 24, 2009

Posted by Nugraha Perdi in agama.
trackback

kontemplasi2Setelah mendapatkan ceramah singkat dari anak muda penggembala domba itu, kedua pemikir suci itupun pergi dengan perasaan agak sedikit dongkol sekaligus penasaran tentang Tuhan yang dikatakan anak muda tersebut. Setelah sekian lama mereka berpisah saatnya bagi mereka mengeluarkan kembali unek-unek pengalamanya yang tadinya sempat terpotong. Sambil berjalan mencari tempat untuk membersihkan diri, mereka berbincang : Junior : ”sebentar senior…! (sambil berusaha menahan laju jalanya senior). Apakah memang seharusnya Tuhan itu ada?. Lalu bagaimana kita mengetahui keberadaanNya?. Dimana kita bisa menemuinya?. Hamba hampir putus asa wahai senior”. Sambil berjalan senior menjawab.

Senior : “Memang seharusnya Dia itu ada, tapi….”, dengan cepat junior menyela,

Junior : ”bagaimana bisa seperti itu, buktinya setelah bertahun-tahun kita mencariNya, tetap saja tidak mendapatkan hasil yang memuaskan”.

Senior : ’Betul juga kamu, tetapi dalam persemedianku waktu itu, aku sempat menemukan rumus-rumus untuk mendeteksi keberAdaanNya. Dan rumus itu telah saya uji kesahihannya.

Junior : ”WOW, menarik tuh…!!, berilah hamba sedikit pencerahan wahai senior!

Senior : ”Sebenarnya rumus ini hasil diskusi kita 13 tahun yang lalu tentang alam semesta beserta isinya.”

Junior : ”Oh..ya…ya…ya…saya ingat. Lalu apa yang terjadi dengan alam semesta berserta isinya itu wahai senior?”, dengan nada penasaran. Sang senior menghentikan laju jalanya sejenak untuk menjelaskan.

Senior : ”begini ceritanya, setelah saya menemukan tempat persemedian yang cocok dimana saya bisa bersua denganNya, sayapun merebahkan badan sambil istirahat dan tertidur pulas. Ketika saya bangun tiba-tiba dipinggir saya ada sebuah telur besar, sayapun kaget dan tidak tahu itu telur milik siapa yang berada ditempat terpencil seperti ini.?” sambil keheranan.dan junior menukas,

Junior : ”Saya tahu senior…itu adalah telur pemberian tuhan untuk engkau, supaya engkau tidak kelaparan”.

Senior : ”Mungkin saja begitu, tapi saya berpikir lain. Mustahil telur itu ada karena hasil ledakan atau dari sesuatu yang tidak ada.

Junior : ”Betul sekali engkau senior…!!, mustahil telur itu ada secara kebetulan dipinggir engkau. Juga mustahil telur itu ada dari sesuatu yang tidak ada, sehingga aku yakin telur itu ada pemiliknya. Tetapi apa maksudnya cerita telur ini senior menurut saya ga penting telur itu milik siapa!”. Sudahkah anda bertemu denganNya?”

Senior : ”Saya tidak bertemu dengan Dia, tetapi setelah kejadian itu saya merasa dekat dengan Dia. Apalagi setelah saya amati dengan pikiran saya tentang alam ini yang saya hubungkan dengan kondisi telur tadi. Akan sangat mustahil jika alam ini muncul karena ketidak sengajaan. Artinya, saya pikir Dia itu terang adanya.” Dengan perasaan campur aduk; tegang, takut, indah, puas dll, junior menyela.

Junior : ”Ok, ok, ok…engkau memang hebat senior. Cukup dulu!!!, sekarang aku merasakan kenikmatan kerinduanku padaNya. Wahai Engkau Yang Maha Ada aku bersyukur padaMu, karena Engkau telah Meng-ada-kan ku dan temanku ini.

Senior : ”ya seperti itulah yang kurasakan pula…bahkan lebih dahsyat. Sekarang cobalah rumus alamiah pendeteksi Tuhan ini barangkali engkau membutuhkanya untuk berargumentasi tentangNya. Ini dia rumusnya : A = A, A≠ T dan ,T = nihil/ non existence (tidak bisa di-interpretasikan), dan rumus yang satunya lagi yang masih berdampingan dengan rumus itu adalah sebagi berikut : Se -A-k -Ak- Ak …….

Junior mengajak untuk menghentikan perjalanan sejenak, untuk memejamkan matanya sambil menghirup udara segar. Tetapi berbeda dengan perilaku aneh junior, sang senior masih merasa was-was, karena takut rumus yang sederhana itu ada kesalahan penafsiran. Raut wajahnya sangat serius, pertanda harapan yang sangat besar untuk mendapatiNya. Bersambung…

Sesuatu yang Ada pasti muncul dari keberAda-an pula. Karena Ada adalah ada. Hanya yang Ada yang bisa memberi keberadaan. Mustahil yang Tidak Ada bisa memberikan keberadaan, karena Ada tidak sama dengan tidak ada. Tidak ada adalah Tidak Ada itu sendiri dan mustahil Ada, karena Tidak Ada bukan Ada. Ada adalah Abadi karena tidak terlahir dari ketiadaan dan tidak akan pernah tiada. Karena Ada adalah Ada dan bukan Tidak Ada. Dari rangkaian keberadaan itu terdapat hukum sebab-akibat yang tidak bisa tertolak. Sesuatu itu Ada pasti Ada penyebabnya, mustahil Ada secara kebetulan. Dia-lah Tuhan Yang MAHA ADA sebagai SEBAB AWAL bagi keberAdaan Alam semesta ini [-Perdi-]

Komentar»

No comments yet — be the first.