Guru di terminal perubahan Desember 13, 2008
Posted by Nugraha Perdi in Pendidikan.1 comment so far
Mengajar sebagai kata yang identik dengan guru atau ustadz (teacher dalam bahasa inggris), karena sebagian dari aktifitas kehidupannya diisi oleh kegiatan mengajar tersebut (walaupun hal itu ada terkesan dipaksa baik oleh kurikulum, kebutuhan dapur ataupun impian PNS). Selanjutnya kegiatan belajar-mengajar merupakan suatu proses pentransferan ilmu pengetahuan dari sang guru kepada siswa, sehingga terjadi gerakan dalam diri murid, yang tadinya tidak tahu menjadi tahu. Saya mandang hal ini merupakan proses alamiah manusia yang senantiasa bergerak menuju kesempurnaan. Dan menolak proses ini berarti melanggar hukum alam. Sehingga proses ini menjadi sangat dianjurkan adanya, dan kalau saya boleh katakan wajib adanya, dan manusia ber-ilmu mempunyai tanggung jawab besar atas kelangsungan proses ini.
Jika posisinya seperti ini maka, posisi guru sebagai orang berilmu harus bisa menunjukan arah pada orang tersesat, memberikan cahaya pada orang yang berjalan di lorong gelap, menghujani ladang hati yang kering dan kaku, memberikan tongkat pada orang yang pincang jalanya dan memberikan tumpangan pada orang yang sedang melakukan perjalanan dengan tujuan baik. [Perdi-].
Karl Marx yang “cinta kaum buruh” Desember 3, 2008
Posted by Nugraha Perdi in Sosial.add a comment
Karl Heinrich Marx (nama lengkapnya yang lahir pada 5 mei 1818). Saya mandang perlu untuk menulis nama populer itu di dalam judul yang berkaitan dengan buruh, karena ide-idenya tentang pembelaan kaum buruh sangat luarbiasa dan mendunia. KOnon dari idenya-lah faham komunis lahir sebagai obat penawar atas penyakit/ virus Kapitalisme yang menjangkiti masyarakat kecil secara akut.
awalnya konflik terjadi pada diri Marx yang pada waktu itu relatif masih kecil, yang harus secara terpaksa meninggalkan kepercayaan/ keyakinannya dari agama Yahudi jadi agama Kristen Protestan, karena seluruh keluarganya telah dibaptiskan jadi kristen protestan.
Konflik keyakinan yang diderita marx sangat mempengaruhi kehidupannya, dia harus rela meninggalkan Tuhan-nya yang Tunggal (Jehovah) kemudian menerima tuhan-nya yang baruyaitu Tuhan Bapa, Tuhan Yesus dan Tuhan Roh Kudus (yang selanjutnya disebut Tritunggal). Seiring dengan bertambahnya usia, otaknya yang luarbiasa dan sudah terkontaminasi oleh faham-faham lain itu semakin menolak realitas yang ada di lingkungan gereja, dari mulai konsep Tritunggal yang menurutnya samasekali tidak masuk akal, sampai Paus dan Kitab-kitab Injil juga kena kritikannya yang menrutnya itu adalah bukan wahyu Tuhan tapi Kitab “gubahan” dari sang paus sehingga hanya menguntungkan kaum elit (kaum ber-modal) saja, sehingga gereja tersebut dianggapnya sebagai alat/ mesin efektif untuk memeras dan membunuh secara halus kaum buruh serta membiusnya agar tidak berontak. sebagaimana dalam sebagian ajarannya/ dogma yang penuh dengan cinta kasih gereja yang juga merupakan sasaran kritik marx terhadap injil, bahwa:
“Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadu engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan satu mil, berjalanlah bersama ia sejauh dua mil” (matius, 5:39-41)
Selanjutnya, kritikan marx berlanjut pada kaum pemodal (kapitalis), karena analisisnya tentang nilai lebih (mehwert surplus value) yaitu sistem yang dimainkan oleh kaum kapitalis dengan memeras tenaga buruh lebih banyak dan lama ketimbang upah yang diberikan kepada kaum buruh tersebut yang lebih sedikit, sehingga tidak simbang antara tenaga yang banyak dikeluarkan dan waktu kerja yang lama dengan upah. Oleh karena itulah marx sangat kecewa terhadap kondisi seperti itu, sehingga bersama temanya Engels, dia menyusun sebuah manifesto partai komunis (manifest der kommunistischen partei) yang terkenal sangat ganas :
“Kaum komunis tidak perlu menyembunyikan pendapat dan maksudnya, dengan terusterang mereka mengumumkan bahwa tujuan mereka dapat dicapai dengan merobohkan seluruh susunan masyarakat ini dengan kekerasan. Hendaklah golongan yang berkuasa gemetar dihadapan revolusi komunis. Kaum buruh yang miskin tidak akan kehilangan apa-apa kecuali belenggunya. -Proletarier aller vereinigt euch- Kaum buruh sedunia bersatulah !”.
Dari sana dia meng-claim bahwa hanya dengan kekerasan dan melenyapkan agama-lah kaum tertindas bisa memperoleh kemerdekaan dari belenggu-belenggu kapitalis yang amat kejam. Dan demi-cita-citanya demi kebebasan kaum buruh itu ia rela untuk hidup menderita, sampai akhir hayatnya ia tidak pernah kebagian cinta dan kasih yang pada waktu itu sangat marak diajarkan oleh gereja.
Filsafat materialisme dialektika Historis yang dianutnya untuk melawan kesesatan agama pada waktu itu. dengan ungkapanya yang sangat terkenal yaitu :
“Religion is the sigh of the oppressed creature, the heart of a heartless eorld, just as it is the spirit of a spiritless situatio. It is opium of the people”.
“”Agama adalah keluh kesah makhluk yang tertindas, hati nurani dari dunia yang tidak berhati, tepat sebagaimana ia adalah jiwa dari keadaan yang tidak berjiwa. Dia adalah Candu Rakyat”.
Dari ide itulah pangkal terbentuknya faham komunis (marxis-leninis) yang menjelma menjadi sistem, struktur, dogma bahkan agama yang mendunia, yang sebagai aktornya adalah seorang “paulus-nya Karl Marx” yaitu Lenin pemuda Jerman yang gigih.
Akhirnya perjuangan dan ajarannya untuk membela kaum buruh yang tertindas “kandas” seiring dengan berjalannya waktu, dan agen-agen kapitalis-pun masih tetap bermunculan…….Lalu…;
Sia-siakah perjuangan Marx demi buruh ?
Terkutuk-kah ia (marx) yang benci bahkan memerangi agama yang pada waktu itu agama hanya dijadikan sebagai alat penindasan pada kaum buruh ?
Masihkah tersisa nilai-nilai kepercayaan spiritual dalam dirinya?, ataukah sudah punah bersama dengan pemikirannya sendiri (filsafat materialisme dialektika historis) sehingga sampai saat ini ia dikutuk banyak orang sebagai orang ateis ?
Akankah ia (marx) mendapatkan Cinta Kasih yang sejati ?
Terlepas dari itu semua, sungguh ia mengingatkan manusia bumi akan pembelaan terhadap kaum tertindas (mustadh afin) dari cengkraman kaum penindas (mustakbirin), yang menerobos jauh dari wilayah materialisme yaitu pembelaan moral serta nilai-nilai kemanusiaan universal dan meng-agungkan persaudaraan (brotherhood). [Perdi].
Sumber: Marx dan Agama -O. Hasem-