jump to navigation

Cogito Ergo Sum-nya Al-Marhum Cak Nur November 19, 2008

Posted by Nugraha Perdi in Sosial.
trackback

kerjaSekali lagi saya tawarkan kembali sepercik gagasan dari Cak Nur (panggilan akrab dari Nurcholish Madjid). Barangkali judul dengan sedikit make bahasa asing itu tidak terlalu asing bagi kita, apalagi dikalangan para pemikir. Ungkapan populer itu berasal dari seorang filosof terkenal dari perancis yaitu Rene Descartes, yang artinya kurang lebih seperti ini : “Aku Berpikir maka Aku Ada” (je pense donc je suis -dalam bahasa perancis-). Menurutnya berpikir adalah bentuk wujud manusia. Barangkali, ini merupakan penegasan bahwa manusia merupakan makhluk yang berpikir, sehingga orang yang ga mau mikir berarti dia tidak pantas disebut manusia. Karena akal pikiran merupakan ciri khas dari makhluk jenis manusia ini.

Kemudian berkaitan dengan itu, Cak Nur dengan claim gagasan keislamanya menegaskan bahwa seharusnya falsafah itu berbunyi seperti ini : “Aku Berbuat maka Aku Ada”.

Perbuatan atau kerja, amal dan bentuk praktis (praxis) lainya adalah bentuk keberadaan (Mode of existence) dari manusia. Artinya manusia itu mengada ketika ia kerja, dan kerja itulah yang menegaskan dan mengisi eksistensi manusia itu sendiri. Jadi konsekuensinya barangkali, orang yang tidak mau kerja atau beramal atau berbuat sesuatu secara praktis (praxis), maka maaf-maaf aja orang tersebut kurang layak disebut sebagai manusia.

Selanjutnya Cak Nur menegaskan kembali lewat salah satu ayat dalam teks suci yang ia sarikan kurang lebih seperti ini : “bahwa manusia tidak akan mendapatkan sesuatu apapun kecuali yang ia usahakan sendiri”. Bertolak dari sini ia menganjurkan untuk senantiasa menginsafi secara mendalam bahwa nilai yang dimiliki manusia itu adalah bentuk/ hasil kerjanya sendiri yang kelak akan dipertanggungjawabkanya sendiri pula. Jadi, seharusnya kita tidak menyepelekan pekerjaan yang dilakukan. Dan bahwa kerja itu adalah Mode of Existence diri manusia itu sendiri, sehingga, kita tidak boleh memandang kerja sebagai “untuk orang lain” (secara eksistensial). Berbuat baik atau buruk itu akan membentuk nilai pribadi masing-masing dan bukan untuk orang lain.

Yang kemudian ia pertegas lagi dengan mengambil salah satu ayat dari teks suci al-qur’an yang ia tafsirkan kurang lebih seperti ini : “barang siapa berbuat baik, tidak lain ia berbuat baik untuk dirinya sendiri, dan barang siapa berbuat jahat, tidak lain ia berbuat jahat untuk dirinya sendiri, bahkan barang siapa yang bersyukur atau bertema kasih (kepada Allah) maka tidak lain ia bersyukur atau berterimakasih pada dirinya sendiri.

Hari ini saya mau menyampaikan Selamat bekerja aja!!! [Perdi].

Komentar»

No comments yet — be the first.