Memilih Istri November 26, 2008
Posted by Nugraha Perdi in Sosial.add a comment
Mempunyai istri/ pendamping hidup merupakan dambaan setiap kaum Adam. terlepas dari problem apapun, barangkali, laki-laki yang ga mau punya istri berbarti ga normal dan secara serius dia telah melanggar nature-nya sendiri sebagai makhluk Tuhan yang mempunyai hasrat “bergaul” denagn lain jenis, sehingga karenanya ia “berdosa”.
Selanjutnya barangkali kita (kaum adam) punya pilihan masing-masing sesuai type-nya terkait “istri mana yang paling beruntung mendapatkan laki-laki seperti diri ini…?!!”. Kemudian Laki-laki mana yang ga mau punya istri yang sempurna (kaya, baik, cantik, soleh dsb.), pokoknya sempurna dech….!!
Tapi uniknya, sekali lagi masing-masing cowok punya selera tersendiri dalam memilih istri sehingga soal kaya, cantik, baik, dan soleh itu jadi relatif dan itu sulit dihindari. Misalnya aja soal cantik. Ok, dikampus negeri cewek itu cantik, tapi belum tentu jika dibandingkan dengan cewek dikampus swasta. Selain itu persepsi cantik bagi kaum wanita mungkin saja berbeda dengan persepsi cantik menurut kaum adam yang biasanya barangkali Cantik itu dipersepsi berdasarkan hasrat seksualitas kaum adam itu sendiri..UggHh. Tapi pandangan kaum adam itu-pun masih relatif juga, mungkin aja bagi laki-laki yang ahli batin, Cantik itu dipandang sebagai manifestasi kelembutan dan keindahan Tuhan. Nah, dari contoh itu tidak ada bedanya dengan soal, kaya, baik, soleh dll, selama itu masih dalam wilayah persepsi dan diperbandingkan, maka itu akan jadi relatif.
Akhirnya mari kita luruskan niat, perhebat diri dengan ilmu dan selamat memilih pasangan [Perdi].
Cogito Ergo Sum-nya Al-Marhum Cak Nur November 19, 2008
Posted by Nugraha Perdi in Sosial.add a comment
Sekali lagi saya tawarkan kembali sepercik gagasan dari Cak Nur (panggilan akrab dari Nurcholish Madjid). Barangkali judul dengan sedikit make bahasa asing itu tidak terlalu asing bagi kita, apalagi dikalangan para pemikir. Ungkapan populer itu berasal dari seorang filosof terkenal dari perancis yaitu Rene Descartes, yang artinya kurang lebih seperti ini : “Aku Berpikir maka Aku Ada” (je pense donc je suis -dalam bahasa perancis-). Menurutnya berpikir adalah bentuk wujud manusia. Barangkali, ini merupakan penegasan bahwa manusia merupakan makhluk yang berpikir, sehingga orang yang ga mau mikir berarti dia tidak pantas disebut manusia. Karena akal pikiran merupakan ciri khas dari makhluk jenis manusia ini.
Kemudian berkaitan dengan itu, Cak Nur dengan claim gagasan keislamanya menegaskan bahwa seharusnya falsafah itu berbunyi seperti ini : “Aku Berbuat maka Aku Ada”.
Perbuatan atau kerja, amal dan bentuk praktis (praxis) lainya adalah bentuk keberadaan (Mode of existence) dari manusia. Artinya manusia itu mengada ketika ia kerja, dan kerja itulah yang menegaskan dan mengisi eksistensi manusia itu sendiri. Jadi konsekuensinya barangkali, orang yang tidak mau kerja atau beramal atau berbuat sesuatu secara praktis (praxis), maka maaf-maaf aja orang tersebut kurang layak disebut sebagai manusia.
Selanjutnya Cak Nur menegaskan kembali lewat salah satu ayat dalam teks suci yang ia sarikan kurang lebih seperti ini : “bahwa manusia tidak akan mendapatkan sesuatu apapun kecuali yang ia usahakan sendiri”. Bertolak dari sini ia menganjurkan untuk senantiasa menginsafi secara mendalam bahwa nilai yang dimiliki manusia itu adalah bentuk/ hasil kerjanya sendiri yang kelak akan dipertanggungjawabkanya sendiri pula. Jadi, seharusnya kita tidak menyepelekan pekerjaan yang dilakukan. Dan bahwa kerja itu adalah Mode of Existence diri manusia itu sendiri, sehingga, kita tidak boleh memandang kerja sebagai “untuk orang lain” (secara eksistensial). Berbuat baik atau buruk itu akan membentuk nilai pribadi masing-masing dan bukan untuk orang lain.
Yang kemudian ia pertegas lagi dengan mengambil salah satu ayat dari teks suci al-qur’an yang ia tafsirkan kurang lebih seperti ini : “barang siapa berbuat baik, tidak lain ia berbuat baik untuk dirinya sendiri, dan barang siapa berbuat jahat, tidak lain ia berbuat jahat untuk dirinya sendiri, bahkan barang siapa yang bersyukur atau bertema kasih (kepada Allah) maka tidak lain ia bersyukur atau berterimakasih pada dirinya sendiri.
Hari ini saya mau menyampaikan Selamat bekerja aja!!! [Perdi].
Menyoal Gotong Royong ala Mang Eef Sebagai Alternatif Atas Kebobrokan Sistem Pembangunan Pemerintah November 18, 2008
Posted by Nugraha Perdi in agama.add a comment
Gotong royong merupakan produk unggulan gaya Mang Eef dalam menjalankan roda pemerintahan di Kab. Subang dalam periode sebelumnya. Hal ini dilakukannya sebagai strategi alternatif atas bobroknya sistem pembangunan pemerintah saat ini nyang menurutnya kurang efektif untuk dilaksanakan yang senantiasa hanya memihak pada kaum elite politik dan pengusaha saja sehingga pada akhirnya Rakyat pula-lah yang menjadi korban.
Barangkali, model pemikiran seperti itulah yang dapat saya tangkap dari seorang Eef Hidayat yang sekarang akan kembali beraksi dalam kancah pemerintahan daerah Kabupaten Subang (pemenang Pilkada Kab. Subang 2008; menang sekitar 262.825 suara dan unggul di 17 kecamatan dari 30 kecamatan yang ada di kabupaten Subang). Dengan semangat gotong royong dan mempertahankan tradisi lokal maka akan terasa lebih Efektif Efisien dan Produktif (EEF) dalam menuntaskan program pembangunan sehingga metode itu dapat dirasa sebagai petunjuk (HIDAYAT) bagi masyarakat yang kecil. Seperti itu barangkali…he..he.. so tw lo!!.
Sampai disini saya sepakat, tapi menurut saya sayang sekali kalau gotong royong hanya ditarik pada wilayah fisik (development) saja, karenanya gotong royong menjadi cacat akan makna generiknya yang berefek lebih luas dari sekedar development fisik saja.
Berkaitan dengan itu saya ketakutan ketika Gotong Royong hanya berkutat di wilayah fisik pembangunan saja. Bisa saja alih-alih bobroknya sistem pembangunan pemerintahan dalam pembangunan, maka menjadi pe-wajar-an terhadap tindakan korupsi. Sehingga pemikiran ini menjadi rancu dan sesat. Coba aja kita petakan pemikiran ini ; Oknum Pemerintah menjadi “Korban Paksaan” dari sistem yang amburadul sehingga ia jadi Korup. Sehingga konsekuensinya Rakyat-pun jadi korban atas tindakan Korup oknum pemerintah tersebut. Nah, kalo gini siapa yang mo disalahin, ya sistem-lah titik. Udah ga usah ngomong apa-apa lagi!!! SSSssstT!!…
Barangkali inilah yang disebut oleh Kang Jalal sebagai Fallacy of Misplaced Concreetness. atau dalam istilah logikanya adalah reification, yaitu menganggap real sesuatu yang sebetulnya hanya dalam pikiran kita saja. Lalu siapa sistem itu?, Bentuknya seperti apa?, Gimana cara dia maksa oknum pemerintah untuk Korupsi?.
Terlepas dari penyesatan pemikiran tersebut diatas, disini saya mencoba bergaya seperti para ahli, yang bisanya cuma ngomong+kritik, karena itu terasa lebih mudah. Sekali lagi, saya cuma tertarik sama gotong royongnya Mang Eef tapi tidak tertarik sama sekali sama yang melegalkan korupsi dengan cara apapun. Gotong royong yang bergaya “developmentalis” ini memang ada yang mengatakan ini merupakan cara modernisasi, The passing of a traditional society into a modern one (beralihnya masyarakat traditional menjadi masyarakat modern). Disamping itu saya berharap gaya gotong royong mang eef selanjutnya menjadi lebih greget lagi, bukan hanya dengan simbol-simbol seperti iket, tugu gotong royong, baju kampret dan calana hideung ngatung, karena menurut saya itu akan membuat masyarakat pusing aja..simbol perlu tafsiran/ persepsi yang pada akhirnya akan menjadi modal dari sikap dan tindakannya, syukur kalo tafsirannya positif, nah, kalo negatif..??, Belum lagi cost yang harus dikeluarkan untuk bikin iket, kampret, tugu dan simbol gotong royong lainya..waduuh brabe mang jigana!!. Tetapi dengan mengarahkan pada penyadaran terhadap masyarakat sehingga menjadi gerakan-gerakan sosial (collective action) untuk menyelesaikan problem sosial dan menjadi selarasnya antara Das Sollen dan Das Sein.
Seperti kata Kang Jalal: “Kita mengharapkan pemimpin yang sensitif terhadap aspirasi rakyat, dan bukan pemimpin yang sensitif terhadap aspirasi dirinya.” Amin.
Hidup gotong royong….!!!!, Mangga Mang wilujeng berjuang!. [Perdi]
Kearifan “islam sekuler” ala Cak Nur November 11, 2008
Posted by Nugraha Perdi in agama.add a comment
Mendengar kata sekuler pasti orang menganggap itu sesat. Karena sekuler mengandung makna umum sebagai pemisahan antara agama dan negara atau selain agama. Agama tidak mempunyai otoritas untuk mengatur kehidupan suatu masyarakat bernegara. Pandangan ini mebuat masyarakat khususnya masyarakat islam “trauma” dengan kata sekuler. Islam kan agama Rahmatan lil’alamin…
Berbeda dengan Cak Nur yang sangat memuji keanekaragaman bangsa/ budaya indonesia. Bicara indonesia berarti bicara budaya banget. Ia mengambil kata sekuler dengan maksud untuk memurnikan agama islam dan bukan sebaliknya. Dengan ikhtiar pemikirannya ia ingin memisahkan mana agama islam dan mana budaya atau selain islam. Bukanya memisahkan secara total hubungan islam dengan yang lainya.
Walaupun saya bukan Nurcholisme, tapi saya mandang pemikiran ini cukup arif dan bijaksana…
Dan tidak sepadan dengan berbagai sebutan negatif yang ditempelkan kepadanya. Barangkali, untuk masalah itu, terletak pada keterbatan pemikiran kita dalam mempersepsi pemikiran seorang Nucholish Madjid.
Mahasiswa Kok…Luar Biasa! November 11, 2008
Posted by Nugraha Perdi in Pendidikan.add a comment
Menyoal masalah tawuran antar mahasiswa yang saat ini sedang musim-musimnya emang menarik. soalnya ya…emang harus menarik dan sangat menarik serta harus semenarik mungkin dibincangkan. Dari dulu ngomongin Mahasiswa berarti ngomongin masyarakat banyak, ya minimal pasti ngomongin kemajuan didaerahnya masing-masing, Selain itu ya…Belajar yang baik dikampusnya, supaya bisa meneruskan perjuangan para pahlawan demi kemajuan dan bukan kemunduran untuk bangsa ini. Nah, masalah Tawuran antar Mahasiswa ini emang sangat Luar Biasa (diluar kebiasaan) perbincangan tadi. Barangkali, tinggal persepsi kita tentang mahasiswa saat ini yang harus diperbaiki. Atau boleh jadi saat ini pergerakan mahasiswa aga sedikit berbeda dari yang dulu mengingat perubahan jaman yang semakin tidak terkontrol?.
Mungkin Tuhan telah Mengambil IlmuNya untuk bangsa ini. Bagaimana tidak, Siapa lagi kalau bukan mereka yang terdidik di kampus-kampus sebagai penerus bagi bangsa ini.
NGERI, sampai terbawa mimpi…oh mahasiswa
NEGERI ini tersakiti oleh ulahmu yang tadi…oh mahasiswa
NYERI, hati ini karena caci maki dari bahasa kampusmu…oh mahasiswa
NYERI raga ini karena lemparan dari batu-batu kampusmu…oh mahasiswa
NGIRI perasaanku akan teriakanmu yang dulu; “HIDUP MAHASISWA INDONESIA, HIDUP RAKYAT INDONESIA”
argumentum ad verecundiam November 6, 2008
Posted by Nugraha Perdi in Sosial.add a comment
judul aneh tersebut (Fallacy logic; dalam ilmu logika) mempunyai peran yang cukup besar di kalangan ningrat dalam struktur masyarakat tertentu. hal ini merupakan salah satu kekeliruan berpikir yang cenderung menggunakan suatu otoritas untuk membenarkan atau membela pendiriannya sendiri, sehingga lawan/ musuh ga bisa berkutik karenanya. hal ini cukup berbahaya jika dibiarkan, bisa-bisa semua manusia stress akibatnya. selain menyerang mental pemikiran ini bisa mencuat kepada pergesekan fisik, karena ini akan menyangkut pada hal yang sangat prinsip dalam sebuah keyakinan kehidupan didunia ini.