Prita…MERDEKA!!! Juni 11, 2009
Posted by Nugraha Perdi in agama.add a comment
Bagi saya prita adalah suara hati setiap manusia yang bisa bergerak. Sisi kemanusiaan yang tercetus lewat perbuatan prita merupakan tindakan yang wajar dan sangat alamiah. Karena pada dasarnya setiap manusia mendambakan kesempurnaan. Menghalangi atau membantah sifat alamiah ini berarti sudah melanggar hukum nature kemanusiaan sekaligus menghilangkan sisi kemanusiaan itu sendiri (“dosa yang tak terampuni”)
hal ini tidaklah sebanding dengan apa yang dia dapatkan. Sekarang sudah jelas siapa yang harus mendapat hukuman penuh atas masalah ini. Ini merupakan masalah yang sangat prinsip serta perlu mendapatkan penanganan yang sangat serius daripada isu untuk berebut dukungan kekuasaan.
MERDEKA!!!
Kontemplasi 6 Mei 27, 2009
Posted by Nugraha Perdi in agama.add a comment
Riak-riak dari kejauhan sudah nampak tanda-tanda kehidupan manusia. Akhirnya para pemikir itu telah berhasil melewati hutan belantara selama kurang lebih satu hari satu malam. Hari menjelang senja dan cuaca yang sedikit mendung menggugah firasat mereka bahwa malam ini akan turun hujan dan mereka harus mendapatkan tempat berteduh dan beristirahat sejenak. Mulailah mereka mencari tempat tinggal hingga menemukan sebuah rumah yang besar dan megah, merekapun masuk menemui penghuni rumah itu dengan maksud untuk meminta ijin tinggal. Ternyata jauh dari harapan, mereka malah mendapat usiran karena pemilik rumah megah itu tidak mau ditinggali oleh orang-orang kumuh seperti mereka berdua.
Tidak putus asa mencari tempat penginapan gratis, akhirnya mereka menemukan sebuah rumah yang lebih kecil dan sederhana daripada yang tadi, tetapi merekapun mendapat perlakuan yang sama dari pemilik rumahnya. Dengan nada kecewa pemikir junior berkata; “Barangkali hanya Tuhan kita sajalah yang paling baik, yang memberikan segala sesuatu secara gratis tanpa pandang bulu, betul tidak senior?”. “Ya, kamu betul”, jawab senior singkat.
Hujan-pun mulai turun membasahi tubuh mereka dan hari semakin gelap menyelimuti alam raya sedangkan mereka belum mendapatkan tempat berteduh. Sambil berjalan setengah lari akhirnya mereka menemukan sebuah bangunan kumuh yang beratapkan jerami tanpa dinding. “bolehkah kami berteduh disini?”, Tanya senior sambil menyelipkan badanya dibawah atap jerami. “Oh, tentu saja boleh,mari silahkan”. Ajak salah satu penghuni bangunan tersebut.
Suasanapun mulai hening. Sambil menunggu hujan reda, junior mengajak ngobrol pada seniornya; ”aku tahu senior…kenapa dirumah bagus tadi kita di usir tetapi disini tidak kena usir”, kata junior dengan nada sok tahunya. ”ya, kenapa ya kok bisa gitu…?”, tanya senior penasaran. ”ya..karena rumah bagus tadi bukan tempat penginapan umum gratis, tetapi kalau disini kayaknya tempat pengungsian gratis. Lihat aja mereka penghuni tempat ini, jumlah mereka lebih dari 10 orang semuanya bawa tas besar-besar lagi pasti isinya pakaian+harta..kebanjiran kali yeach…”, jawab junior dengan sedikit berbisik pada seniornya. ”SSsstt…sudahlah wahai junior, janganlah kau membicarakan orang lain, itu tidak baik, OK!!”. kata senior dengan nada protes.
Sejenak suasana hening kembali. Udara malam mulai terasa dingin menembus kulit mereka. Orang-orang penghuni gubuk itupun sudah tertidur pulas. Melihat perbekalan mereka, sepertinya mereka adalah orang-orang pengelana yang telah melakukan perjalanan jauh, entah akan kemana akan terus berjalan.
Ditengah suasana yang hening itu, tiba-tiba junior bertanya pada seniornya; ”O ya senior, setelah dipikir-pikir kenapa juga tuhan menciptakan manusia secara beragam, ada yang miskin ada yang kaya, ada yang percaya pada-Nya ada juga yang tidak seperti kepala suku brenye dari pulau capung itu, kenapa ya senior, padahal Dia kan Maha Kuasa,kenapa Dia tidak menjadikan kita semua orang yang kaya dan taat kepada-Nya, pasti semuanya aman lancar dan terkendali, betul tidak senior?”. ”ooOh…jadi kamu udah mulai frustasi miskin terus…?!!. menurut saya, Tuhan kita tidak mungkin sedang main-main. Keragaman adalah kehendak dari-Nya yang Maha Bijak. Banyak hikmah yang dikandung dari keberagaman, salahsatunya kita bisa saling memberi dan menyayangi, dan itu akan terasa lebih indah, betul tidak?…dan berarti, tindakan menyeragamkan dari keragaman anugerah Tuhan ini sama dengan melawan hukum Tuhan itu sendiri dan itu mustahil”, Argunmen senior.
Argumentasi dari seniorpun dijawab dengan ngorok yang menarik dari juniornya. Dengan nada kesal senior berkata; ”hei..junior, argumentasi saya belum selesai..!!”. meski mendapat teguran dari seniornya junior tetap saja betah dialam bawah sadarnya. [-perdi-]
Bersambung….
Caleg Ksatria Pecundang 2009 Mei 27, 2009
Posted by Nugraha Perdi in agama.1 comment so far
“Partai kita bukanlah sebuah partai yang demokratis, paling tidak dalam arti traditional yang biasanya dilekatkan pada kata tersebut” (Gramsci, Mei 1925)
“tentang ‘kita’ dan ‘rakyat’ seolah-olah keduanya adalah entitas yang terpisah; di mana kita (siapakah yang disebutnya ‘kita’?), sebagai partai aksi, dan rakyat sebagai sebuah kawanan kaum buta dan bodoh”. (Leonetti)
Pesta Demokrasi. Seperti itulah yang hari ini masih ramai ditelinga sebagai sebutan lain untuk pemilu legislative tahun 2009. dimana orang-orang berebut untuk mendapatkan kursi di DPR pusat sampai DPRD Kota/ Kabupaten dengan alat perangnya tiada lain adalah partai. Peralatan perangpun mulai dipersiapkan apalagi pesta ini akan menentukan pesta selanjutnya, yaitu Pilpres, antara lain atribut partai diperbanyak guna membius minat masyarakat bawah, membentuk kelompok kecil yang siap mati di medan pertempuran (tim sukses) dan tidak lupa lumbung-lumbung logistic mulai dipertontonkan sebagai bentuk unjuk kekuatan partai.
Genderang perang telah dibunyikan, saatnya kini kita mempersiapkan diri. Saya tidak tahu apakah kita harus senang atau sedih. Pasalnya banyak Caleg sekaligus anggota dari sebuah partai politik yang mengalami depresi sampai ada yang mati dalam pertempuran. Mereka gugur karena didera kekalahan yang telak. Perjuangan mereka sudah ancur-ancuran dengan mengorbankan segala apa yang mereka miliki, meskipun tidak sampai menjual kolor mereka. Bagaimana hati tidak kan hancur jika kondisinya seperti itu. Lebih baik mati sebagai ksatria di medan pertempuran dari pada kalah menyedihkan, Wwwueeesh…
Sudah dapat diperkirakan sebelumnya, bahwa Caleg yang akan mengalami kekalahan dalam peperangan berjumlah sangat banyak karena tidak sebanding dengan kursi yang telah disediakan di Badan Legislatif yang relative lebih sedikit dari pada yang mendaftar untuk duduk di kursi tersebut. Jadi, Caleg “Ksatria Pecundang” pun sudah dapat diperkirakan akan membludak.
Istilah demokrasi yang seharusnya menuntut sikap terbuka dan saling menghargai serta legowo kini ternodai oleh para ksatria pecundang ini. Tidak jarang para caleg yang beradu fisik untuk berebut kursi. Sejujurnya saya tidak rela jika diantara mereka ada yang duduk dikursi legislative, karena merekalah yang akan menampung segala aspirasi rakyat dan menjalankan serta mengotak-atik system, bisa dibayangkan akan seperti apa jadinya. Selain mereka berdosa pada dirinya sendiri, mereka juga telah berdosa pada rakyat karena telah berkhianat. Dia dipilih oleh rakyat, tetapi mereka malah sibuk bertempur demi sebuah kursi bukan untuk rakyat tapi untuk dirinya sendiri. Rakyat adalah kawanan kaum buta dan bodoh yang harus mereka mainkan untuk menyokong kedaulatan mereka..
Lalu, orang seperti apakah yang layak duduk dikursi legislative itu?,
Yang jelas dia harus sudah melampaui batas-batas hasrat material atau duniawinya, sehingga dimata dia kepentingan bersama adalah prioritas yang harus diperjuangkan dari pada kepentingan pribadinya. Sisakanlah orang-orang seperti itu dimuka bumi ini ya Tuhan-ku, demi hamba-hambaMu yang menginginkan perubahan. Amin…
Sekolah! Mei 11, 2009
Posted by Nugraha Perdi in agama.1 comment so far

Karena setiap orang wajib menggunakan potensi akal pikirannya untuk mengetahui sesuatu, maka setiap orang itu berhak mendapatkan ilmu pengetahuan baik secara formal ataupun nonformal. Kondisi ini menuntut negara untuk bertanggungjawab terhadap rakyatnya agar setiap orang tanpa pengecualian harus bisa merasakan nikmatnya menimba ilmu di sekolah. Sekolah merupakan sarana formal untuk menuntut ilmu sebagai upaya Negara untuk mempermudah rakyatnya dalam mengaktifkan potensialitas akalnya demi kehidupan yang lebih berharga. Jika, masih banyaknya problem dalam masalah pendidikan kita hari ini, maka hal itu mencerminkan kedustaan serta pengkhianatan Negara terhadap rakyatnya.
Belajar ! Mei 11, 2009
Posted by Nugraha Perdi in Pendidikan.add a comment
Belajar merupakan gerak alamiah manusia dari ketidaktahuan menjadi tahu dalam arti proses menuju pengetahuan baru. Belajar adalah konsekuensi bagi mereka yang masih mempunyai akal pikiran. Menghentikan proses belajar berarti menghilangkan identitas sebagai makhluk yang berakal. Dan ketika itu pula dia sudah mensejajarkan posisinya dengan hewan atau tumbuhan. Secara otomatis tindakan dia merupakan tindakan orang tersesat, karena dia telah merendahkan martabatnya sebagai makhluk paripurna ciptaan Tuhan.
Kontemplasi 5 April 15, 2009
Posted by Nugraha Perdi in Cerita.add a comment
Dari awal percakapan dengan ustaz keramat hingga akhir, tidak sedikitpun keterangan yang mereka dapat terkait masalah yang melanda mereka, kecuali beberapa kutukan saja dari pak ustaz keramat kepada mereka berdua. Perasaan kecewa melanda mereka, ternyata yang mereka anggap ahli dibidangnya kurang bisa memberikan jawaban yang jelas sehingga tidak dapat memuaskan keinginan mereka untuk mendapatkan informasi yang jernih yang didasari oleh pemikiran secara rasional tentang-Nya.
Hebatnya, kegagalan pak ustaz keramat dalam berargumentasi secara rasional tentang ketuhanan itu tercover oleh predikatnya sebagai ustaz yang “memegang” otoritas tertinggi karena dia mengetahui terjemahan kitab suci dari tuhan. Kitab suci menjadi senjata paling ampuh untuk memelintir siapa saja yang mencoba mengkritik dia, sekaligus sebagai tameng yang kuat untuk menutup (bloking) kelemahan dia. Kelebihan dari pak ustaz dalam menyelesaikan masalah adalah dari segi efektifitas waktu, yaitu dalam hitungan menit permasalahan akan cepat terselesaikan dengan lancar meskipun lawan bicaranya merasa agak dirugikan karena mendapat teroran neraka jahanam dan kutukan lainya. Maka, tak heran jika ada seseorang yang menentang atau mengkritik dia, sudah dipastikan seseorang itu akan menderita penyakit stress mental karena tidak kuat menerima kutukan ustaz keramat tersebut.
Dalam perjalanan yang tak tentu arah, pemikir senior merasa curiga atas kelakuan pemikir junior yang kadang-kadang bicara sendiri dengan gerak-gerik yang tidak wajar. Awalnya senior cuek aja, tetapi karena takut terjadi apa-apa sama junior, seniorpun mencoba untuk care padanya dengan menanyakan keadaan junior; “hei junior ada masalah apa gerangan engkau bicara sendiri seperti yang ketakutan?”. “ah..tidak, aku hanya teringat saja perkataan-perkataan yang dilontarkan pak ustaz keramat pada kita”, jawab junior. “perkataan apa yang kau maksud?”, tanya senior dengan penasaran. “ah..tidak, aku hanya kepikiran saja bagaimana jika yang dikatakan ustaz itu benar, dan kitapun akan terpanggang diatas api yang panas (neraka) seperti gorengan…wuidiiih serrem senior, aku jadi tidak semangat hidup dibuatnya”, jawab junior dengan ketakutan. “ya makanya jangan kurang ajar sama Tuhan, Dia udah ngasih akal pada kita tapi tidak dimanfaatin, itu namanya kurang ajar”, jawab senior. “Maksud senior apa?”, Tanya junior. “ya karena kita punya akal pikiran, wajar dong kita nanya untuk mencari tahu tentang sesuatu, apalagi sesuatu itu adalah Tuhan yang telah memberikan fasilitas akal pikiran hanya pada kita umat manusia. Semenjak kita ketemu pak ustaz kita kan cuma nanya, so, kenapa kita dapet kutukan?”, jawab senior. Dan sambil berbisik senior menambahkan argumentasinya; ”jadi, yang pertama kali dia kutuk sebenarnya adalah dirinya sendiri karena sejak awal dia telah melarang kita untuk bertanya tentang-Nya dan berarti dia juga yang kurang ajar karena melarang memanfaatkan fasilitas dari Tuhan ini”. ”masihkah kamu takut akan neraka wahai junior?, aku sarankan sebaiknya kamu lebih takut ketika engkau tidak bisa mendekati-Nya”. Saran senior pada juniornya.
Perasaan junior-pun lebih lega dari sebelumnya lantaran mendapat wejangan dari seniornya. Ketika mereka sedang menelusuri hutan, serentak langkah senior terhenti karena melihat seekor ular besar yang sedang mengerami telurnya. Dan seketika itu pula senior teringat akan telur yang dia temukan tempo dulu di sebuah goa pengasingan. Telur ular itu persis seperti telur yang ia temukan itu. Betapa kagetnya ia, andaikan telur itu adalah benar milik ular itu, berarti waktu itu ia sedang tidur bersama ular besar itu. Sambil bersembunyi, merekapun istirahat dibawah pohon besar yang daunya sangat lebat. Untuk mengatasi rasa takut mereka terhadap ular besar itu, merekapun berbincang kembali; ”wahai senior, kita tidak mungkin berjalan terus begini tanpa tujuan, bisa-bisa kita mati dijalan atau ga kita mati dirampok binatang buas..”. kata junior membuka percakapan. ”engkau benar wahai junior. Aku jadi teringat kata-kata terakhir pak ustz keramat itu”. Jawab senior. Dan dengan nada ketakutan junior-pun menyela; ”tolong jangan lagi kau bicarakan nerakanya pak ustaz Keramat itu wahai senior..ngeri ah!!”. ”bukan itu, tapi tentang orang Atheis yaitu Kepala Suku Brenye dari Pulau Capung itu, gerangan dimana tempat itu berada wahai junior?”. jawab senior. Dengan nada semangat junior menjawab; ”Ahha…kalo gitu mari kita lanjutkan perjalanan kita ke pulau capung”. ”Oh, jadi kau mengetahui tempat itu wahai junior?”. tanya senior dengan nada gembira. ”kita telusuri saja hutan ini, dan setelah mendapati suatu perkampungan, kita tanyakan kepada penduduk dimanakan gerangan pulau capung itu berada…mari senior”. Jawab junior sambil mengulurkan tanganya pada seniornya untuk bangkit dari duduknya dan segera melanjutkan perjalanan. ”kamu sangat betul sekali”, kata senior dengan nada sebel karena merasa dibodohi juniornya. Dan merekapun melanjutkan perjalanannya menuju Pulau Capung. [-perdi-]
Bersambung…
KOntemplasi 4 April 15, 2009
Posted by Nugraha Perdi in Cerita.add a comment
Atas petunjuk si penjual firman Tuhan merekapun sampai disebuah tempat peribadatan, dan ditempat itu pula mereka bertemu dengan ustadz keramat yang fatwa-fatwanya sangat dipatuhi oleh setiap orang, lantaran dia mempunyai ilmu yang mendalam. Dalam menjelaskan tentang sesuatu, sudah dapat dipastikan dia akan menggunakan kitab suci dan keterangan lain yang tidak bisa diganggu gugat. Bicaranya sangat pandai, penampilanya-pun mengundang simpati dan rasa segan dari setiap orang yang berjumpa dengan dia, bagaimana tidak, jubah putih yang panjang, kepalanya diikat seperti obat nyamuk, tidak lupa sorban yang menggelantung dipundaknya membelit leher, janggut lebat yang hamper nyambung sampai godeg, benar-benar mencirikan orang yang soleh dan berilmu tinggi. Ia mempunyai banyak murid, yang sebagian besar muridnya adalah anak-anak seusia Sekolah Dasar selebihnya seusia SMP. Jika ada permasalahan dalam hal keagamaan, dia akan jawab dengan sangat mudah dan singkat lantaran ilmunya itu. Jangankan masalah agama, masalah politik social dan budaya-pun dia sanggup menjawab setiap permasalahannya. Bisa dibayangkan, apalagi ini yang menyangkut masalah Tuhan, yang sangat mendasar dalam hal keagamaan, dalam pemecahannya bisa sambil merem saja sudah dipastikan beres dan tuntas. Dan akhirnya perbincangan-pun sudah tidak bisa ter-elakan lagi;
Ust. Keramat : ”ada maksud apa gerangan saudara datang kemari?”
Senior : ”begini pak, kami mendapat informasi dari seorang pedagang kitab, bahwa anda adalah orang yang ahli dibidang ini”.
Ust. Keramat : ”Bidang apa yang saudara maksud?”. dengan cepat junior menjawab
Junior : ”bidang ketuhanan pak”. Dengan nada heran dan sedikit emosi ustadz jawab;
Ust. Keramat : ”Apa…??!!,emang tuhan punya bidang apa?, awas…!! hati-hati kalau bicara. Tuhan itu Maha Suci, Maha Mulia, Maha Pengasih dan sangat Sakral, jadi tidak boleh sembarangan ngomong tentang Dia. Kalau anda berbicara sembarangan, maka anda akan celaka. Anda akan tergolong dengan orang-orang musyrik yang menyekutukan Tuhan. Dan dosa musyrik itu adalah dosa yang paling besar yang tidak bisa terampuni, jika kalian melakukannya, maka kalian akan menjadi penghuni neraka jahanam yang amat panas selama-lamanya alias abadi”… disela pembicaraan tiba-tiba Senior mengacungkan tangan dengan maksud memotong pembicaraan ust. Keramat yang sudah sampai akhirat itu.
Senior : ”Euu…maksud kami datang kesini, mau mencari informasi tentang Tuhan, barangkali bapak ust. Keramat bisa bantu kami…?!, kami sudah berusaha sekuat tenaga dan pikiran kami untuk mencari informasi sekaligus fakta tentang-Nya, dengan maksud supaya kami bisa mencintai Dia sepenuh dan setulus hati kami. Biarkanlah kami menjadi saksi atas keagungan-Nya”.
Ust. Keramat : ”Ooh…kalau begitu saya sampaikan sebuah informasi tentang-Nya. Bahwa Dia itu adalah Tuhan Yang Maha Esa, Dia tidak beranak dan diperanakan, dia juga berbeda dengan selain-Nya, Dia itu Maha perkasa yang menciptakan langit, bumi beserta isinya, jadi anda-anda sekalian wajib menyembah-Nya, titik”.
Senior : ”lalu bagaimana anda bisa menjelaskan bahwa Dia itu adalah Esa sedangkan keberadaan-Nya pun belum anda jelaskan. Kenapa Dia harus ada?, dimana dia?, kenapa dan buat apa Dia menciptakan kita semua?…”.
Ust. Keramat : ”Bertobatlah wahai engkau hamba-hamba tuhan…saya ingatkan kalian sekali lagi, kalian bisa terjerumus kedalam api neraka yang paling dalam dan panas. Sebaikanya kalian sudahi saja usaha kalian untuk bertanya tentang Tuhan. Lebih baik urusi saja diri kalian masing-masing, carilah kebahagian hidupmu didunia ini dengan memperbanyak ibadah kepada-Nya. Jangan sia-siakan hidup ini yang sudah diberikan Tuhan pada kita semua”.
Senior : ”bagaimana saya bisa beribadah dengan fokus…sedangkan yang saya ibadahi-pun saya tidak kenal bahkan tidak tahu sama sekali”. Dan juniorpun mencoba menambahkan argumentasinya.
Junior : ”engkau betul wahai senior..pepatah lama-pun bilang tak kenal makanya tak sayang dan tak sayang makanya tak cinta. Nah, kalau kita ga kenal sama Dia bagaimana Dia bisa sayang sama kita”.
Ust. Keramat : ”Ok, kalau kalian tetap seperti itu kalian akan mendapat azab dari Tuhan, kalian akan dimasukan kedalam lautan api neraka yang sangat panas, tubuh kalian akan disetrika, dibakar dan dipotong-potong. Hidup kalian didunia inipun tidak akan mendapat berkah dari Tuhan lantaran kelakuan kalian yang melecehkan Tuhan itu, pergi kalian dari sini, saya tidak mau melihat orang-orang kafir seperti kalian…!!!”.
Senior : ”Pak Ustaz Keramat salah jika bapak mengira bahwa saya akan takut dengan kutukan bapak. Lagian saya-pun masih belum mengerti tentang neraka, buat apa tuhan menciptakan tempat seperti itu, bukankah Dia itu maha pengasih seperti yang bapak bilang, lalu kenapa dia menyiksa sebegitu parahnya. Andaipun saya masuk neraka seperti yang bapak maksudkan, saya akan sangat merasa rela dan bahagia asalkan yang memasukan saya ke neraka adalah Tuhan dan bukanya bapak ustaz”. Dengan nada tenang junior menambahkan;
Junior : ”anda tenang aja pak ustaz..!, Tuhan akan mengampuni kami. Mari senior, kita pamit”.
Ust. Keramat : ”Hei…jangan kurang ajar ya, Tuhan tidak akan mengampuni kalian…kalian berdua sama saja seperti Kepala Suku Brenye dari pulau capung yang Atheis itu..kalian semua termasuk orang-orang kafir nan musyrik yang dikutuk Tuhan. Sialan loh…!!”. Teriak pak ustaz keramat kepada mereka yang sedang berjalan meninggalkan tempatnya sambil menunjukan tangannya kepada mereka berdua.
Akhirnya, merekapun pergi meninggalkan tempat ustaz keramat itu setelah kenyang dikutuk abis-abisan plus usiran secara tidak hormat…[perdi]
Bersambung….
Guru Sukwan Harus Bergerak!!? April 15, 2009
Posted by Nugraha Perdi in Sosial.add a comment
“Perjuangan kelas akan tetap ada bahkan meski kaum borjuis dan para intelektualnya, yang merupakan ‘tentara-tentara bayaran’ kaum borjuis, menyangkal keberadaannya.”
(Antonio Gramsci)
Kehadiran Guru Sukarelawan (Sukwan) atas kebijakan pemerintah indonesia semakin menambah deretan cara penindasan baru bagi rakyatnya. Pasalnya orang yang rata-rata memiliki latar pendidikan Sekolah menengah sampai perguruan tinggi ini dipekerjakan sebagai tukang. Mereka menerima bayaran hanya satu minggu sedangkan kerja mereka harus satu bulan. Langkah program pendidikan ini sudah menyalahi kodrat kemanusiaan, yang seharusnya ketika mereka kerja maka ketika itu pula mereka mendapat bayaran sebelum mulut mereka basah lagi setelah kekeringan lantaran bicara dikelas dalam hitungan jam.
Ambil contoh konkritnya seperti ini; 1 jam mereka dibayar 10.000. missal saja dalam satu minggu mereka mempunyai 10 jam. Secara otomatis dalam satu bulan mereka punya 10 jam x 4 minggu = 40 jam. Tetapi, bayaran yang diterima mereka pada tanggal yang tidak menentu adalah Rp. 100.000,-, karena hitungan atau rumus yang digunakannya adalah rumus ”nilai sukwan”, nilai sukwan berarti nilai suka-suka aja, mau berape juga suka-suka gue, lantaran gue juga yang ngasih. Secara hitungan pake akal waras, saya yakin hasil keringat guru sukwan selama satu bulan bukan di angka Rp. 100.000,-
Praktik “nilai lebih” yang merupakan produk kapitalis ini akan menjadi pemicu munculnya gerakan baru dari “Tukang Pengajar”. Jangan salah, mereka mempunyai basic pendidikan yang cukup tinggi, maka ketika mereka menemukan posisi mereka saat ini, sudah dipastikan gelombang reaksi dari buruh pengajar akan bergejolak. Mereka mempunyai modal untuk melakukan gerakan itu, karena mereka orang-orang beruntung yang bisa sekolah kejenjang lebih tinggi yang tentunya tidak menelan biaya yang sedikit. Selain dari pada itu mereka mempunyai jaringan-jaringan yang dapat dengan mudah mereka akses sehingga berpotensi untuk menjadi sebuah gerakan kolektif.
Guru sukwan serta buruh-buruh se-nusantara bersatulah…!!!!,
Sangat sejalan dengan nama yang disandangkan pada Tukang Mengajar ini yaitu sebagai Guru Sukwan. Nama sukwan menjadi alasan jitu untuk menutupi kebobrokan system pendidikan kita sekaligus untuk melegalkan cara penindasan. “la wong namanya juga sukarelawan kok…mbo ya jangan diributin to, mo berapa aja bayarannya, mo seberapa lama kerjanya… Dah dapet juga masih untung..!!!, pemerintah justru membantu mereka yang kesusahan cari kerja, mau apa lgi sichh…”. kalimat itu pasti muncul dan benak kita men-sah-kan itu, karena sudah terlanjur nama yang menarik itu yang dilekatkan oleh pemerintah sudah mengotori pikiran kita, sehingga pikiran kita menjadi rancu dalam memandang masalah tersebut.
Kualitas pendidikan bukanlah ditentukan oleh sebuah nama yang direkayasa sedemikian rupa. Tetapi bagaimana pemerintah menyediakan anggaran untuk menopang kualitas pendidikan dan para pendidik untuk mengembangkan potensinya. Harapan agar wajah buruk pendidikan kita semakin jelas terlihat sehingga setiap individu bisa mengontrol setiap kebijakan secara nyata dan tidak asal kontrol pake cara boong-boongan….. [Perdi Abu Ghaida’]
Ghaida’ Irbah Nugraha Maret 24, 2009
Posted by Nugraha Perdi in 1.1 comment so far
Selasa 13 Pahing bertepatan 13 Rabiul awal 1430 H, 10 maret 2009 M dirimu lahir dan menghirup oksigen Planet Bumi secara langsung diiringi tangisan tanpa air mata. Aku terharu dengan kehadiranmu di Planet Bumi ini. Aku sebut Nama Tuhan-ku Yang Maha Tinggi sebagai kata pertamaku untuk menyambut kedatanganmu. Aku terharu dengan kehadiranmu di Planet Bumi yang semakin hari semakin tercemar karena ulah bangsa manusia. Aku khawatir padamu…
Merasa tak percaya hari itu menjadi seorang Bapak. Perasaan itu membuatku terus terharu karena hidupku akan bertambah indah dan penuh makna. Getaran hati yang syarat akan nilai spiritual selalu muncul begitu saja ketika wajahmu muncul dalam memoriku., dan detik itu pula aku berharap semoga aku bisa mendidikmu ke jalan lurus yang dikehendaki Tuhan.
Ghaida’ Irbah Nugraha, aku do’akan kamu melalui nama itu. ”anugerah yang lembut yang membawa keberuntungan”, kurang lebih seperti itulah arti sederhananya. Jangan kau tafsirkan Lembut-mu sebagai Lemah dan tak berdaya-mu, dan jangan pula kau tafsirkan keberuntungan-mu sebagai untung dalam materi semata.
Lembutmu adalah kasihmu, kasihmu adalah sayangmu, sayangmu adalah budi baikmu, budi baikmu adalah bijakmu, bijakmu adalah cerdasmu, cerdasmu adalah sabarmu, sabarmu adalah kekuatanmu. Dan kekuatanmu adalah keberuntunganmu yang tak ternilai oleh materi. Ghaida’-mu adalah Irbah-mu. Kau adalah anugerah yang bergerak dari Tuhan bagiku. Amin…[Abu Ghaida’]
Kontemplasi 3 Maret 24, 2009
Posted by Nugraha Perdi in agama.1 comment so far
Akhirnya mereka menemukan tempat “pembersihan natural” yang tersedia seolah tanpa batas yaitu sungai yang lebar berbatu dengan air yang begiiitu jernih. Seketika junior berkomentar “UWwwaahh…lihat sungai itu senior, Tuhan kita memang baik senior, sungguh sangat beruntung kita, Dia Tahu apa yang kita mau, tapi…sebenarnya ini semua untuk siapa ya…?”. Dengan sedikit heran senior jawab “apa…nanya apa kamu ini junior?, maksud kamu apa yang untuk siapa itu?”. Kemudian junior jawab; “ya ini, masa ya itu…, maksud saya dari mulai udara segar yang membuat pernapasan saya jadi lega, kemudian air yang jernih yang membuat badan saya fresh, pohon besar berlumut hijau, bunga yang berwarna-warni nan indah yang membuat mata saya ceria, tidak lupa binatang-binatang air, darat dan udara yang beragam ini. Tentunya ini semua tidak akan habis jika untuk kita berdua sampai kita mati pun, betul tidak senior?”. Dan senior jawab; ”Ahh..kamu ada-ada aja, kamu tuh ke PD-an, kamu merasa kamu memiliki ini semua dengan alasan tuhan telah memberikan ini pada kita, padahal tidak seperti itu kan, coba lihat diseberang sungai sana, masih ada manusia-manusia yang menggunakan fasilitas Tuhan ini”. ”mana…mana senior, bila perlu kita usir saja mereka!!”, jawab junior dengan semangat juangnya. Dengan nada bijak senior jawab; ”tidak wahai junior…!! mereka juga makhluk Tuhan, mereka berhak memanfaatkan fasilitas dari Tuhan ini. Kasian kan, coba lihat perempuan berkulit putih dan berambut panjang itu!, kalo dia tidak membersihkan badan dan pakaian dalamnya, bisa-bisa dia jadi perawan seumur hidupnya”. Dengan nada semangat juangnya junior menjawab; ”Mana…mana…mana..wahai senior, bila perlu kita beritahu dia bahwa ini adalah fasilitas yang Tuhan berikan untuk kita semua, kita bebas memanfaatkannya demi kebaikan kita dan tanpa dipungut biaya!!!, betul tidak senior?”. senior memberi respon; ”kamu betul, tapi mendingan kamu urusi dulu badanmu dengan fasilitas Tuhan-mu itu, biar bisa mendekatinya dan tidak disangka penghuni hutan ini karena badanmu yang dekil and the kumel itu”.
Singkat cerita, atas dorongan kemanusiaan mereka berdua mencoba untuk mendekati para perempuan itu guna untuk menjalin komunikasi kembali dengan manusia lain. Dan atas petunjuk perempuan itu, maka sampailah mereka disebuah perkampungan yang cukup ramai karena banyaknya pedagang. Hal pertama yang mereka cari adalah orang yang sedang ngobrol, barangkali saja mereka sedang ngobrol tentang Tuhan, dan rencananya mereka akan melibatkan diri. Dari kejauhan mereka berdua melihat seorang pedagang yang berpakaian gaya arab borju. Terdengar suara pedagang itu menawarkan produk unggulannya; ”Wahai umat manusia…!!, marilah kemari, disini dijual kitab suci wahyu Tuhan untuk segenap manusia penghuni bumi ini, barang siapa yang ingin selamat dunia wal akhirat, maka disinilah jawabannya, kemarilah!!!”. tanpa basa-basi merekapun menghampiri pedagang itu dan segera memulai obrolannya dengan tawar menawar harga;
Junior : ”berape hargenye sob…?, awas ya, jangan sampe mengecewakan. Saya ingin yang kualitas dan khasiatnya bagus, kira-kira yang mana ya?”
Pedagang : “harganya Rp. 45.000,-, menurut ana, harga segitu tidak sebanding dengan khasiatnya. Ini adalah kitab suci yang turun langsung dari Tuhan. Orang jaman sekarang lebih rela uangnya dibelikan roti bulat didalamnya ada tumpukan rumput mentah, daging setengah matang, saos, tomat dan bawang serta menu modern lainya, dan harganya pun lebih mahal dari kitab suci ini. Mudah-mudahan anda tidak termasuk orang yang tersesat seperti itu. kitab ini adalah ilmu Tuhan. Dalam salah satu ayatnya Dia berkata tentang keharusannya setiap manusia untuk menimba ilmu, dan inilah ilmu itu. maka, belilah barang suci ini, niscaya engkau akan selamat.”
Senior : ”Sebentar pak, saya pusing dengan pembicaraan anda. Anda menjual kitab suci/ wahyu tuhan, dan dengan wahyu Tuhan anda promosikan kitab suci demi uang sebesar Rp.45.000,-…?!!??, apakah anda sudah minta ijin pada tuhan untuk menjual firmanNya?, kalo sudah, seharusnya uang hasil dagangan itu dibagi dua sama Tuhan karena kau menjual Perkataan/ firman Dia…??!”.
Pedagang : ”Euu….eu…..maksud saya???…><
Junior : ”sejauh mana anda mengenal Dia?”.
Pedagang : ”Saya mengenal Dia lewat FirmanNya di Kitab Suci ini”
Senior : ”lalu bagaimana kalo ada kitab suci lain yang mengatakan bahwa Dia itu tidak ada, atau Tuhan itu adalah manusia suci yang beranak banyak..?, bagaimana kau menjelaskan hal itu semua?!
Pedagang : ”Ya terserah, yang penting ana tetap berpegang pada kitab yang paling suci dan paling sempurna ini”.
Senior : ”sepertinya anda masih mengalami kekeliruan. Seharusnya anda mengenal Tuhan terlebih dahulu daripada firmanNya. Anda tahu Dia dari kitab ini, sedangkan kitab ini dari Dia. Sungguh sulit kuterima”.
Pedagang : ”Maaf, ana cuma mau melayani yang akan mau beli kitab suci ini saja. Keahlianku cuma bisnis kitab. Sebaiknya ente-ente cepatlah bertobat sebelum Tuhan murka pada ente, datangilah Ustadz Keramat yang berada diujung jalan ini, mintalah pencerahan darinya. Wasalam”.
Bersambung…
Proses berpikir secara filosofis tentang ketuhanan selalu menghadapi kekacauan jika didialogkan dengan tanpa prinsip berpikir yang benar. Menurut saya proses seperti ini sah untuk dilakukan dan akan mempunyai nilai lebih jika memang telah menguasai ilmu alat seperti filsafat dan logika. Kasarnya ketika berbincang dengan tukang jualan ayat suci-pun akan tetap PD karena telah memiliki dasar filosofis yang runut dari pada pedagang firman yang hanya tahu dari informasi sebuah teks atau terjemahan ayat-ayat. [perdi]